Indonesia yang jaya
dimassa depan
Antisipasi yang terus harus
diupayakan hendak untuk merebut masa depan, kenapa demikian karena ini merupakan hak
mutlak individu dan populasi sebuah negara, maka kita harus sama - sama memikirkan, bekerja, berupaya, berdoa, berjuang dan harus dipertangung jawabkan nanti kepada anak cucu kita,
antisipasi masa depan nan jauh harus terus digelorakan agar menusuk - nusuk
kesegala lini kehidupan dan ruh jiwa raga individu setiap insan yag menginkan
sebuah kemajuan dan kejayaan bangsa ini.
masa kejayaan indonesia ini adalah sesuatu yang pasti
dan akan terjadi, Indonesia merupakan sebuah wilayah emas yang berada dijalur
katulistiwa yang terkenal dengan keindahaanya, mempunyai kekayaan alam yang
luar biasa dilengkapi dengan sumber daya manusia super jenius dalam jumlah
sangat banyak melimpah ruah. Semua itu ibarat raksasa tertidur lelap yang
menunggu saat tepat untuk dibangunkan oleh orang-orang terpilih. Lalu kapan
saatnya tiba masa kejayaan itu, tanggal, bulan atau tahun berapa? apakah
2014,2020,2050,2100 atau tahun selanjutnya? kita semua belum tahu karena masa
depan adalah rahasia Tuhan penguasa seluruh alam semesata. jadi biarlah waktu
yang akan menjawabnya. Aoakah dengan begitu saja kita pasrah dengan waktu
tentunya tidak perlu tindakan dan design dan konsep untuk menuju tujuan yang
diharapkan bangsaa besar ini.
Teori kehidupan mengatakan
bahwa bangsa-bangsa yang pernah besar dalam sejarahnya di masa lalu cenderung akan
mengalami kembali kebesarannya di masa yang akan datang. Atau dengan kata lain,
bangsa-bangsa yang bisa besar sekarang dan di masa mendatang adalah
bangsa-bangsa yang pernah besar di masa lalu. Saya percaya pada teori
ini.
Nusantara (yang kemudian menjadi Indonesia) di dalam sejarahnya telah pernah
mengalami dua kali masa kejayaan. Akankah kita mengalami kembali kebesaran itu
di masa yang akan datang dan kapan? Adakah tanda-tanda ke arah itu?
Di Sumatera pernah
berdiri kerajaan maritim yang berpengaruh luas bukan hanya atas Sumatera,
tetapi juga atas Jawa dan Kalimantan dan bahkan hingga ke Semenanjung Malaysia,
Kamboja, Vietnam, Thailand Selatan serta Filipina. Bukti awal mengenai
Sriwijaya berasal dari Abad Ke-7, ketika seorang pendeta Tiongkok (I Tsing)
menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671 M dan bermukim di sana
selama setengah tahun. Prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berasal
dari Abad Ke-7 yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang.
Pada masa itu Sriwijaya menjadi pusat pembelajaran agama Buddha dan ramai
dikunjungi para peziarah dan tokoh-tokoh agama Budha. Dalam politik, Sriwijaya
disegani oleh negara-negara lain. Dalam perdagangan, Sriwijaya yang menguasai
Selat Malaka dan Selat Sunda mengontrol jalur perdagangan antara dua pusat
utama yaitu India dan Cina. Sriwijaya memiliki banyak komoditas antara lain
kapur barus, kayu gaharu, kapulaga, gading, emas, dan timah yang membawa
kemakmuran bagi Sriwijaya. Sejarah juga mencatat pada masa Sriwijaya inilah
berkembang bahasa Melayu sebagai lingua franca ke seluruh penjuru Nusantara.
Kita dapat menyaksikan candi-candi peninggalan kerajaan ini seperti Candi
Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sewu (seluruhnya di Jawa Tengah) serta Candi
Muaro Jambi, Candi Muara Takus dan Biaro Bahal (di Sumatera Selatan).
Sekitar 7 abad kemudian setelah
kejayaan Sriwijaya, yakni pada abad ke-14, Kerajaan Majapahit mengalami masa
kejayaan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.
Kerajaan Hindu-Buddha yang berpusat di Trowulan Jawa Timur ini berdiri sekitar
tahun 1293 M sampai 1500 M.
Menurut Kakawin Negara kertagama wilayah kekuasaan Majapahit mencakup selain
Jawa juga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Semenanjung
Malaysia, Singapura dan sebagian Filipina. Kerajaan ini disegani oleh
negara-negara lain. Majapahit juga menjalin hubungan dagang yang baik dengan
Kamboja, Thailand, Birma, Vietnam dan Cina. Kita dapat menyaksikan banyak
sekali bangunan peninggalan Majapahit, antara lain Kolam Segaran, Candi
Bajangratu, Candi Tikus, Candi Brahu, Candi Wringin Lawang, Candi Gentong,
Candi Kedaton, Pendopo Agung dan lainnya.
Siklus 7 Abad
Bangsa kita telah
mengalami kejayaan di abad ke-7 dan abad ke-14. Apakah kita akan mengalami
siklus kejayaan 7 abad?
Saya rasa siklus 7 abad kejayaan Indonesia itu akan menjadi kenyataan
kembali di abad kita ini, abad ke-21. antara tahun 2000-2099. Tanda-tanda
kebangkitan Indonesia abad ke-21 sudah mulai kelihatan.
Baru-baru ini lembaga riset bisnis dan ekonomi yang sangat terpandang di dunia,
The McKinsey Global Institute, menerbitkan laporannya berjudul “The Archipelago
Economy: Unleashing Indonesia’s Potential” yang menunjukkan dengan jelas
kecenderungan kejayaan Indonesia di bidang ekonomi.
Dalam laporan itu McKinsey memperkirakan pada tahun 2030 Indonesia akan
menempati peringkat ke-7 ekonomi terbesar dunia, sesudah Cina, AS, India,
Jepang, Brazil, Rusia. Kini Indonesia menempati peringkat ke-16 ekonomi
terbesar dunia sesudah AS, Cina, Jepang, Jerman, Prancis, Brazil, Inggris,
Italia, Rusia, Kanada, India, Spanyol, Australia, Mexico dan korea Selatan.
Mckinsey memperkirakan kelas konsumen Indonesia akan meningkat dari sekarang 45
juta orang menjadi 135 juta orang pada tahun 2030 dan pekerja yang
berpendidikan meningkat dari 55 juta orang sekarang ini menjadi 113 juta orang
(2030).
Laporan yang dikeluarkan oleh lembaga yang sangat bergengsi dengan terkenal
cermat itu tentulah sangat membesarkan hati kita.
Menjelang akhir September ybl, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dianugerahi
penghargaan penting di New York yaitu “The 21st Century Economic Achievement
Awards” dari US-ASEAN Business Council serta “The Environment Leadership Award”
dari The Nature Conservancy, WWF dan WRI. Penghargaan ini juga merupakan
pengakuan internasional terhadap kemajuan Indonesia yang sejalan dengan
kecenderungan siklus 7 abad itu.
Sebelumnya kita juga telah mendapatkan pengakuan serta perkiraan sejenis dari
lembaga-lembaga lain.
Kita ketahui bersama pada masa sekarang ini kita menjadi anggota dari G-20
yakni kelompok ekonomi utama dunia yang hanya terdiri dari 19 negara (Afrika
Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, Britania
Raya, Cina, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan,
Meksiko, Perancis, Rusia, Turki) ditambah dengan Uni Eropa.
Beberapa waktu yang lalu John O’Neill (penggagas konsep BRIC – Brazil, Rusia,
India dan Cina) dalam jurnal Goldman Sachs mengusulkan konsep baru untuk
menggantikan BRIC yaitu konsep MIST (Mexico, Indonesia, South Korea and Turky).
Kita sendiri dapat melihat dengan nyata perkembangan ekonomi kita terutama
sejak 2004 yang cenderung meningkat.
Menurut saya semua itu adalah tanda-tanda nyata menuju kebangkitan Indonesia di
abad ke-21 ini. Kejayaan itu akan terjadi di abad sekarang, paling lambat di
masa cucu kita, di kisaran tahun 2030-2045 (menjelang seratus tahun
kemerdekaan Republik Indonesia).
Hal ini tentu dapat meningkatkan sikap optimis kita, suatu sikap yang sangat
dibutuhkan untuk kemajuan bangsa.
Apa Yang Perlu Diwaspadai
Kita dapat belajar
dari sejarah. Majapahit menjelang kejayaannya menghadapi gangguan berupa
perpecahan, hilangnya persatuan. Kita ketahui pada masa itu terjadi perpecahan
yang diakibatkan perpecahan di antara para penganut dua agama besar ketika itu
(Buddha dan Hindu).
Menghadapi perpecahan itu seorang budayawan terkemuka ketika itu yakni Mpu
Tantular mengingatkan masyarakat melalui karya sastranya yang terkenal,
“Kakawin Sutasoma”. Dalam “Kakawin Sutasoma” itu dimuat ajaran “Bhinneka
Tunggal Ika. Tan Hana Dharma Mangrwa”. Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda
tetapi tetap satu) oleh para pendiri republik telah dijadikan semboyan negara
kita. Semboyan itu tertera pada pita Burung Garuda Pancasila yang
men-cengkeramnya kuat-kuat agar tidak terlepas. Tan Hana Dharma Mangrwa (tidak
ada kebenaran yang mendua) telah dijadikan sasanti Lemhanas.
Kini pun gejala perpecahan itu, termasuk perpecahan di antara penganut
agama-agama, harus terus-menerus kita waspadai agar jangan sampai menghalangi
kita mencapai kejayaan.
Sila Persatuan Indonesia, sebagaimana sila-sila lainnya dari Pancasila, selalu
aktual sepanjang abad. Mari kita pelihara persatuan itu dengan meningkatkan
semangat toleransi kita akan kemajemukan. Mari kita cengkeram kuat-kuat pita
Bhinneka Tunggal Ika untuk membawa kita kepada kebangkitan Indonesia di abad
ke-21 seraya memenuhi panggilan sejarah akan kebenaran siklus tujuh abad zaman
keemasan Nusantara
Salam indonesia menuju kejayaan emas !