Di Barat, intelek adalah sumber kehidupan.
Di Timur, cinta adalah dasar kehidupan.
Melalui cinta, intelek tumbuh berkenalan dengan realitas,
Dan intelek memberikan stabilitas kepada kerja cinta,
Bangunlah dan letakkan fondasi sebuah dunia baru,
Dengan mengawinkan intelek pada cinta.
(Dr. Muhammad Iqbal)
Melihat kemunduran dalam persoalan keilmuan, mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah adanya revolusi industri. Revolusi industri abad ke-18 merupakan perubahan terhadap perkembangan peradaban manusia secara masif dan radikal di sektor pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta tradisi keilmuan dunia.
Revolusi industri mengakibatkan terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia. Dimana hampir pada semua lini pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh adanya revolusi industri yang cenderung kapitalis. Terkhusus dalam hal keilmuan, pasca adanya revolusi industri mengharuskan adanya pergeseran terhadap internalisasi nilai keilmuan. Pergeseran keilmuan ini terjadi dalam rangka merubah mindset paradigma keilmuan murni yang banyak melahirkan tokoh besar barat maupun muslim seperti Ar-Razy, Ibnu Kaldun, Aristoteles, Karl Marx, Martin Buber dan lainnya menuju masyarakat pekerja yang menghasilkan suatu barang dan meninggalkan tradisi keilmuan.
Kuntowijoyo sebagai seorang pemikir islam mengalami kegelisahan intelektual melihat fenomena pola keberagamaan masyarakat di Indonesia yang cenderung mempercayai mitos dan menolak masuknya islam atas dasar ilmu. Selain itu, dibukanya kran industrialisasi-informasi semakin mengarah kepada sekulerisasi dalam agama.
Konsep lembaga pendidikan saat ini juga dapat kita amati bahwa hampir 90% mencetak peserta didik untuk menjadi buruh yang tidak punya hak apapun atas alat produksi dan justru meninggalkan tradisi keilmuan. Masyarakat diajari untuk bekerja kepada orang, bukan untuk mentradisikan keilmuan. Ini sejalan dengan teori Marx tentang eksploitasi massal kemanusiaan yang berujung pada kebutaan terhadap tradisi keilmuan. Kaum burjois dan buruh menjadi robot pekerja yang tak lagi mendiskusikan makna keilmuan, apalagi mempunyai paradigma terhadap tradisi keilmuan. Begitu pula dengan paham keagamaan, mereka di pisahkan dari tradisi pengilmuan agama dan menjadi kaku jumud tanpa sikap kritis.
Ini menjadi ironi ketika pada suatu tatanan masyarakat tak ada lagi internalisasi keilmuan maupun keagamaan. Segala bentuk sekulerisasi memang memiliki peran penting dalam menjauhkan masyarakat dari tradisi keilmuan dan keagamaan. Ini adalah pencucian otak skala besar, terkonsep dan sudah berjalan dalam kurun waktu yang cukup lama. Dari realita diatas dapat kita simpulkan bahwa perlu adanya rekonstruksi gerakan pengilmuan menuju masyarakat madani (civil society) yang berkemajuan dan bermartabat.
Harapan Besarku PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta dan Pimpinan Komisariat yg dibawahnya terus Gencar dan berkerja untuk merekayasa dan membuat miniatur ideal masyarakat Madani. Yg kental akan budaya keilmuan dan mencerahkan, sehingga tercapai Cita-cita Negara