Rekam Jejak Syahrul Mamma, Jenderal Polisi Calon Pimpinan KPK
27 Jun 2015 - 13:06

Irjen Pol Syahrul Mamma, Deputi Bidang Koordinasi Keamanan Nasional Menkopolhukam.
Wahyu Wening/TribrataNews.com
Wahyu Wening/TribrataNews.com
Tribratanews.com – Syahrul Mamma lulus AKABRI tahun 1983.
Sebagai salah satu dari 30 lulusan AKABRI dengan nilai terbaik, ia
mendapat jatah masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tanpa tes.
Inilah kesempatan dimana Syahrul memperdalam ilmu hukum, modal dasar
yang membawanya banyak berkecimpung dalam bidang reserse dan kriminal.
Nama Jenderal bintang dua di Kepolisian ini, disebut
sebagai salah satu Calon Pimpinan KPK yang direkomendasi oleh Mabes
Polri. Namun, PATI SSDM Polri Penugasan Kemenkopolhukam Bid Kordinasi
Keamanan Nasional tak banyak mau mendiskusikan tentang pencalonan ini
saat ditemui di kantornya, di Kementrian Menko Polhukkam, Jumat
(2015-06-2015).
“Semua mungkin akan
sepakat, kita tidak bisa membersihkan lantai dengan sapu yang kotor.
Begitu juga persoalan hukum, tak akan bisa “dibersihkan” dengan lembaga
penegak hukum yang “kotor’,” kata Syahrul Mamma tentang situasi
penegakan hukum tindak pidana korupsi.
“Saya ini anak polisi. Jadi setiap hari
melihat, saya ini melihat polisi itu gagah sekali. Bisa membantu orang,
melakukan kegiatan-kegiatan yang memasyarakat. Karena itu dari kecil,
cita-cita saya ya harus jadi polisi. Saya mengikuti orangtua saya,”
kata pria kelahiran Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, 26 Februari 1958
ini.
Beberapa tahun kemudian, Syahrul Mamma
sadar bahwa menjadi polisi adalah menjadi bagian institusi penegak
hukum. Karenanya, sejak awal bdia erkomitmen ingin menjadi polisi yang
“bersih”.
Perjalanan menjadi polisi tidak serta
merta dilalui dengan mudah. Justru, persoalan pertama muncul dari
keluarga. Sang ayah yang polisi, tidak setuju Syahrul Mamma menjad
polisi!
Karenanya, setamat sekolah dasar (SD),
Syahrul Mamma justru dikirim melanjutkan sekolah ke Pondok Modern
Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sang ayah berharap, dengan
masuk pesantren, anaknya dapat memperdalam ilmu agama.
Namun jalan hidup berkata lain. Enam
tahun yang harus dilalui di pesantren, Syahrul Mamma hanya mampu
bertahan kurang dari empat tahun. Hanya sampai kelas 4 di Gontor,
Syahrul Mamma lantas pulang kampungnya di Makassar dan melanjutkan
pendidikannya di Sekolah Menengah Atas.
Tamat SMA, pria sederhana ini masuk
Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) jurusan
Kepolisian (sekarang Akademi Kepolisian/Akpol). Dan, sejak saat itulah
ia melanjutkan cita-cita masa kecilnya.
***
Singkat cerita, setelah melalui beberapa
jabatan penting di bidang reserse, di antaranya sebagai Direktur Reserse
Kriminal Khusus Polda Metro Jakarta Raya pada 2005 dan Kepala Unit II
Direktorat V/Tipiter Bareskrim Polri pada 2006,
saat ini Syahrul Mamma menjabat sebagai Perwira Tinggi Staf Sumber Daya
Manusia (Pati SSDM) Polri yang ditugaskan di Kementerian Koordinator
Politik Hukum dan Keamanan Bidang Koordinasi Keamanan Nasional.
Sebagai perwira tinggi dan dekat dengan
petinggi-petinggi di kepolisian, tentu banyak godaan yang dihadapi ayah
tiga anak ini. Syahrul Mamma mengakui banyak pihak yang memintainya
bantuan, semisal memuluskan anggota keluarganya menjadi polisi.
Ini tantangan. Terutama yang datang dari
keluarga dan teman dekatnya sendiri. “Jadi kalau di kampung itu,
khususnya kalau kita genius di kampung sendiri, yang paling pertama
bangga itu adalah keluarga dan teman. Tapi yang paling pertama membenci
kita juga keluarga dan teman, ketika mereka kita ndak bisa bantu,”
katanya sambil tertawa.
Untunglah Syahrul Mamma punya formula
sendiri untuk menangkal permintaan bantuan yang berpotensi menyalahi
wewenangnya. Ia tegaskan, dirinya siap membantu siapa saja selama itu
tidak melanggar aturan yang ada.
Ia sendiri telah membuktikan ketaatannya
pada aturan main itu. Pada 2014 lalu, anak sulungnya gagal masuk Akpol.
Syahrul Mamma bertekad tidak akan memanfaatkan posisinya ketika tahun
ini, anaknya itu akan coba mendaftar kembali.
“Saya harus siapkan fisiknya, siapkan
inteleknya, siapkan mentalnya. Ya, semua kita siapkan. Karena kita sudah
punya pengalaman tahun lalu tidak lolos. Jadi jangan berpikir saya
bintang dua terus sudah pasti lolos, ndak,” katanya, tegas/
“Kehidupan saya banyak di reserse, di
reskrim, sehingga saya tahu, sejauh mana saya harus minta bantu orang
dan sejauh mana saya tidak boleh bantu,” imbuhnya.
[Iman Firmansyah]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar