Kala itu dapat pesan dari bapak, le,
kamu saya bayari depe buat berangkat umroh ya..tertegun saat itu seketika,
karna bapak saat itu keadaanya baru memikirkan ekonomi keluarga yang begitu
banyak tapi justru kalimat yang keluar dari mulut bapak, adalah kalimat
ukhrowi. Yang membuatku terharu seketika itu juga aku ikut mengamini didalam
hati, bapak tidak lantas diam tapi berusaha memberi pemahaman kepadaku bahwa
apa sih untungnya memikirkan dunia terus menerus, tiada habisnya saatnya kita
berfikir untuk akhirat, bapak yakin suatu saat meskipun belum lunas untuk
berangkat pasti suatu saat ada rezeki yang bisa membuatmu lunas, maka niatkan
untuk berangkat umroh ya nak. Tutur bapak padaku, saya tentu terharu dengan
suasana seperti ini bukan sembarang orang tua yang mampu memiliki keinginan
untuk mendorong anaknya yang masih kuliah didorong untuk berangkat umroh tentu
fenomena langka di dijagad raya ini. Mungkin malaikat pun ikut tercengang
dengan fenomena ini, sungguh luar biasa semoga terwujud kira - kira malaikat
berdiskusi seperti itu. Kali ini aku hanya termenung dengan kalimat yang baru
saja dilontarkan oleh orang tuaku entah akan jadi kenyataan atau hanya sekedar
janji – janji saja yang hanya ingin membahagiakan anaknya, tapi aku yakin bapak
pasti serius ingin memberangkatkan anak – anaknya ke baitullah meskipun belum
haji tapi umroh dulu sebari memberi memberi cerita bagaimana Nabiyuna Muhammad
beliau melaksanakan umroh terlebih dahulu sebelum kemudian melakukan haji,
pembelajaran untuk kita hamba yang lemah, tentu itu membuatku semakin yakin
bahwa Allah pasti berkehendak tapi apalah daya uang jutaan tentu bapak belum
pegang sayapun juga belum pegang , saya hanya anak kos – kosan yang hari –
harinya berusaha untuk hemat hidup dan bersahaja bertahan hiduppun saya alami dari hari ke hari tentu bukan sesuatu
yang biasa ini merupakan perjuangan untuk level mahasiswa yang tidak punya
kemewahan harta yang melimpah berbeda dengan mereka – mereka yang orang tuanya
sudah megah rumahnya kendaraanya mentereng sampai tiap keluarga mememang
kendaraan, kalau dibandingkan tentu jauh dengan mereka yang hidup dipedesaan
kerjaanya tentu kesawah matun, bantu bercocok tanam kadang kala musti
menggembala kambing , sapi kemudian sejenis hewan – hewan ternak yang lain,
ayam, bebek dll. Sungguh penuh kesabaran dan kesahajaan tentu bukan suatu hal
yang mudah hidup dilingkungan modernis yang penuh kebutuhan dan keinginan,
siapa yang tak ingin seperti mahasiswa pada umumnya yang pegang motor bahkan
memegang mobil sendiri, kadang – kadang justru berpacaran, kuliah bukan
prioritas utama, apalagi ibadah sampai memikirkan umroh ataupun haji, yang ada
hidup hedonisme, kapitalitik, pragmatis, apatis, alih – alih eforia kesenangan
sesaat yang lupa dunia akhirat, kajian – kajian di berbagai masjid tentu
banyak, tapi segelintir mahasiswa yang mau memperdalam ilmu agamanya, yang
lainnya tetap pada kesibukan duniawi dan kesibukan sesaat yang menyenangkan
tanpa esensi memperjuangkan kehidupan
yang bernilai ibadah entah sampai kapan pemuda – pemudi dinegeri ini akan punya
pandangan yang berbeda terkait hidup yang fana ini, hidup yang hanya sebentar
ini, tugas kita tentu beribadah menuntut ilmu, mencari pengalaman, memperbanyak
teman dan ukhuwah, menjalin silaturahim kesebanyak – banyaknya kawan, sampai
kapanpun kita tentu akan membutuhkan saudara kita, maka mari kita sama – sama ingatkan
teman – teman kita, rekan – rekan kita agar kembali menuntut ilmu dan
beribadah, syukur – syurkur meniatkan diri untuk memberangkatkan umroh dan haji
orang tua bahkan sekawan – kawan nya diberangkatkan.
Wasssalamualaikum wr.wb.
Ahmad zia Khakim
#lebihdarisekedarnikmatnyaberibadah
#semuabisaumroh
#besttravelservice
#semuabisaumroh
#besttravelservice
P: Mantapjaya
E: ziakhakim@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar