Jumat, 24 Februari 2017

jumat barokah Produktif.

mulai pagi sudah menyaksikan pembukaan Tanwir oleh Presiden RI dan meresmikan Kapal Klinik Apung Said Tuhuleley di Ambon. Maluku Utara,
kemudian disusul Mengaji Surat Alkahfi dan Melaksanakan sunnah Dhuha, dilanjut dengan membayar registrasi, dan ke balaikota surakarta berniat ketemu walikota surakarta namun wal hasil sudah tutup lalu bertolak ke Gladak membeli buku dan sholat dimasjid Agung dan ke PDM Solo(balai muhammadiyah) Rapat Koordinasi Bersama Lazizmu dan Lembaga penanggulangan bencana, dan pemaparan WarungMu (Warung Murah Muhammadiyah) dilanjutkan survei Lokasi DAD part 2 Di Klaten Juwiring. Bertemu dengan berbagai manusia dan melihat banyak dinamika rasanya sesuatu banget bisa merasakan detak jantung masyarakat. Sehingga saya berkesimpulan bahwa " Taharok Fainna Fil Harokah Barokah" Bergeraklah karna disetiap Pergerakan ada berkah.!
esok sudah aka banyak menyongsong ageda2
LAMO Dasar Azhar Basyir dan Pleno 1 Djazki.
dan tak Lupa Skripsi Brooo!!

Selasa, 21 Februari 2017

mencari gagasan baru


semoga ada manfaatnya






kisahku dimalang terimasih teruntuk

1. Meinar yuari salsabil
2. Rajih Ar Raki'
3. Salis.
4. Adi munazir.
5. Dan rekan2 IMMawan/ti


















ceritanya belajar membaca2 Tulisannya mas Eko Prasetyo yg kata sebagian orang profokative untuk para Aktivisme

SIAPA tak kenal Butet Kertaradjasa? Ia lebih dari sekadar seniman penghibur. Bersama Djaduk Ferianto dan Agus Noor, ketiganya sering membuat pementasan akbar. Cirinya selalu sama: melakukan kritik dengan cara menghibur. Kita bisa dibuat ketawa dengan caranya bertutur. Di tanganya sebuah soal bisa diramu dengan cara unik dan jenaka. Rubrik kebudayaan di majalah maupun koran sering mengulas pementasan mereka. Kebanyakan kagum dan memuji. Meski harga tiket untuk menyaksikan pementasannya mahal tapi semua maklum: Butet selalu memberi pertunjukan yang memuaskan. Popularitasnya pernah meroket gara-gara mahir menirukan suara Soeharto. Tak ada iklan maupun film yang tak mengundangnya. Sherina hingga serial Laskar Pelangi menjadikan dirinya bintang. Begitu pula iklan motor hingga iklan makanan. Butet seperti magnet yang akan menarik siapa saja.
Termasuk perusahaan yang banyak dirundung kasus: PT Freeport Indonesia. Satu hari, salah satu perusahaan terkaya di dunia itu mengundang ketiganya ke markasnya. Mengikuti keterangan Butet, mereka diajak untuk melihat bagaimana ‘kebajikan’ perusahaan: membuang limbah yang membuat Butet yakin bahwa Freeport mengerti etika lingkungan. Dua jempol buat Freeport karena bisa membekuk akal sehat dan kesadaran kritis tiga seniman tenar Jogja. Seakan Freeport adalah perusahaan biskuit yang memberi mereka makanan lezat sehingga mereka kagum dan terpesona. Di akhir tamasyanya, Butet kemudian memberi pernyataan yang membuat kita terperangah dan marah!
Di tayangan itu, Butet dengan kaos dan kaca matanya memberi komentar yang mirip dengan anak kecil yang baru diajak piknik: Freeport perusahaan yang bertanggung jawab mengembalikan apa yang diambil dari alam untuk dikembalikan pada alam. Di ujung pernyataannya, Butet menyimpulkan bahwa Freeport adalah perusahaan tambang yang mempertahankan keberadaban manusia. Luar biasa. Dan persis seperti bocah yang baru diberi permen: Butet mengakhiri pernyataannya dengan senyum yang dikulum agak malu.
Saya tak tahu makanan apa yang ditelan Butet selama di Freeport hingga mulutnya berkomentar ngawur seperti itu. Tapi sejak dulu mulut Butet memang ajaib: bisa meniru suara Soeharto.
Tak ingin berpolemik, Butet merasa tak bersalah atas kedatanganya ke Freeport. Tamu yang diundang dan tak kuasa menolak. Baginya mungkin komentar itu hanya pernyataan sekilas atas apa yang disaksikan. Bisa jadi, menurutnya, itulah komentar yang tepat bagi seorang tamu yang dijamu habis-habisan. Tapi kita pantas bertanya pada mereka: dorongan apa yang membuat mereka harus perlu memenuhi undangan Freeport? Motivasi apa sehingga mau-maunya Butet memberi komentar sarat pujian pada Freeport? Diberi apa sebenarnya oleh Freeport mereka ini sehingga bisa memuji perusahaan yang siapapun tahu bergelimang masalah? Apa tujuannya seorang seniman memuji pembuangan limbah yang jauh sekali dari pengetahuan yang dimilikinya?
Yah, kita bisa komentar dan mengutuk sikap Butet. Tapi Butet adalah gejala umum dari sikap seniman besar yang sulit memahami soal keadilan. Terlampau sering mereka membuat kemiskinan, ketidakadilan dan soal kemanusiaan hanya dalam ‘adegan’ panggung. Hidup mereka sendiri berlimpah dengan kenikmatan dan kemakmuran. Kenikmatan telah membuat mereka dengan mudah mendapat kekayaan hanya dengan aksi satu kali iklan. Kemakmuran dapat diperoleh karena sebuah pementasan. Jika tak percaya, datangi saja kediaman mereka dan saksikan apa yang didapat dari hasil membuat semua soal jadi candaan. Diam-diam mereka tak bercanda dengan nasibnya sendiri, tapi mereka yang, bisa jadi, mempermainkan nasib banyak orang.
Di tangan aktor semacam Butet maupun yang setara dengannya, mungkin soal Papua bukan hidup dan mati. Sebab apapun yang diperjuangkan orang Papua, mereka tak terkait sama sekali. Ikatan mereka pada sponsor dan jaminan kebebasan. Bersama para sponsor, yang kebanyakan perusahaan, mereka bisa mementaskan apapun: kemiskinan, kesenjangan dan ketidakadilan. Jaminan kebebasan juga memberi perisai pada mereka untuk bisa bersikap sesuka-sukanya: memuji Freeport atau berdalih dalam soal Freeport. Sikap itu mencuatkan apa yang selama ini jadi bahaya pada sikap kebanyakan seniman: meletakkan soal keadilan hanya dalam batas kreativitas dan netralitas. Butet tak pernah terlibat dalam soal keadilan pada Papua maupun keadilan dalam soal 65. Baginya yang berbahaya adalah ancaman kebebasan berekspresi, yang biasanya dituduhkan pada kelompok agama militan. Butet keras bersuara kalau itu menyangkut hidup-matinya kebebasan berkesenian. Tapi soal keadilan buat warga Papua, sepertinya dirinya berseberangan.
Kini garis berseberangan itu dinyatakan lugas olehnya. Berdiri bersama Freeport mereka memasang posisi. Tak seperti Setya Novanto yang secara kasar minta saham, Butet lebih brutal lagi, memuja sistem pembuangan Freeport. Beruntung Freeport ajak mereka melihat sistem pembuangan. Seandainya Butet bersama Djaduk dan Agus Noor diajak ke kantor direksi Freeport yang – meminjam istilahnya sendiri beradab – pasti pujaanya lebih memukau. Seharusnya mereka bersyukur tak ada yang merekam perjalanan mereka yang pasti menyenangkan itu: sebab jika ditayangkan ulang mungkin Butet dan kedua temanya tak sekedar memuji, tapi bisa jadi menyembah dan memuja. Singkatnya kita bukan hanya marah pada ketiganya, tapi kita malu pada rakyat Papua. Ternyata kita tak hanya punya wakil rakyat yang tamak, tapi budayawan yang mau-maunya melacurkan keyakinan!

Senin, 20 Februari 2017

kedaulatan selalu menjadi sorotan Tajam Negeri ini, karna kita tidak sedang berdaya.

Beginilah Negeri dengan sejuta Corak dan Wacananya, Gagasan dan ide ‘Demokrasi’. Sedemikian sakralnya ide Demokrasi, sampai-sampai segala bentuk keburukan, kedzaliman senantiasa identik dengan istilah : ‘tidak demokratis’. Dan sebaliknya, seakan-akan setiap sesuatu yang ‘demokratis’ (menerapkan nilai-nilai demokratis) itu pasti baik. Demokrasi menjadi tolok ukur yang amat besar pengaruhnya dalam masyarakat, khususnya dalam aktivitas-aktivitas kemasyarakatan. Maka jika sesuatu itu dibumbui dengan kata ‘demokrasi’, jadilah ia istilah yang dapat diterima oleh masyarakat; bahkan terkesan ‘harus’ diterima oleh masyarakat.
 Sehubungan dengan demokrasi ini pula, untuk mengejawantahkan nilai-nilai demokrasi, pemilihan anggota parlemen di suatu negeri, bahkan di negeri-negeri Muslim, menjadi wahana untuk memberikan kesempatan pada rakyat dan partisipasi, untuk merumuskan hukum dasar dan haluan negara (Terbit, 2 April 1996). Wahana ini –lanjut Munawir Syadzali– adalah wahana politik dari sistem demokrasi berdasarkan prinsip kedaulatan rakyat. Dari sinilah kita paham bahwa salah satu ide paling mendasar dari isu ‘demokrasi’ adalah : ‘kedaulatan hanyalah milik rakyat semata’ . Wujud dari kedaulatan rakyat bisa dalam bentuk langusng maupun tak langsung. Yang jelas dalam hal ini rakyatlah pemilik kedaulatan tertinggi sekaligus pemilik kekuasaan.
 Karena ide-ide tersebut sangat membekas di kalangan umat padahal Islam sendiri memiliki penjelasan hukum tersendiri mengenai hal ini, maka selayaknyalah kita bertanya, benarkah kedaulatan itu milik rakyat?
Islam dan Kedaulatan
Demokrasi dibangun atas dasar prinsip yang menegaskan bahwasanya hak dalam membentuk undang-undang dan arah pembangunan berada di tangan rakyat. Dalam sistem kenegaraan, ide dasar tersebut secara praktis tersimpul dalam lembaga yang disebut lembaga legislatif, yaitu lembaga yang menentukan hukum-hukum dasar, serta haluan suatu negara. Apapun yang menjadi produk lembaga ini, berarti hukum yang tidak dapat diganggu gugat lagi. Dengan kata lain, rakyatlah –yang diwakili oleh lembaga legislatif– yang berdaulat (menentukan hukum apa yang akan diterapkan dalam masyarakat).
 Kedaulatan atau As-Siyadah adalah istilah yang berasal dari Barat dan memiliki pemahaman/pengertian tertentu yang bertumpu pada aqidah sekularisme. Maksud kata ‘kedaulatan’ tersebut adalah menangani dan menjalankan suatu kehendak atau aspirasi tertentu (Qowaaid Nidhomul Hukmi fil Islam, kar. Dr. Mahmud Abdul Majid al Khalidi, hal 46).
 Apabila terdapat seseorang yang menangani dan mengendalikan aspirasinya, maka ia pada dasarnya memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri. Jika aspirasi orang tadi dikendalikan dan diatur oleh orang lain, berarti ia telah menjadi hamba (‘abdun) bagi orang lain. Sebuah negeri yang terjajah, akhirnya menjadi hamba-hamba yang aspirasinya, sudah diatur oleh sang penjajah. Dengan kata lain, kedaulatannya sudah berada dalam genggaman sang penjajah.
 Sistem demokrasi berarti kedaulatan berada di tangan rak-yat. Artinya, rakyatlah yang menangani dan mengendalikan aspirasinya. Rakyat berhak untuk mengangkat siapa saja yang dikehendakinya seraya memberikan hak penanganan dan pengendalian aspirasinya kepada orang terpilih tersebut.

mari kita renungkan sejenak
malang,20 Feb 17.

Minggu, 19 Februari 2017

aku slalu tertarik dengan kajian2 Isu2 Peradaban.

Majlis Akhir Tahun INSISTS: Membangun Peradaban Umat 2017






Majlis Akhir Tahun yang merupakan kajian pamungkas INSISTS 2016, di helat pada hari  Sabtu pukul 10-12 tanggal 31 Desember 2016 bertempat di Aula INSISTS, Jl. Kalibata Utara II, No. 84 Jakarta. Tampil sebagai pembicara, Dr. Adian Husaini dengan tema “Agenda Peradaban Umat Islam 2017” dipandu oleh Dr. Syamsuddin Arif.


Dalam prolognya, Syamsuddin Arif memaparkan bahwa program utama INSISTS adalah bekerja pada ranah pendidikan, penelitian, konsultasi dan penerbitan.  “Kita akan ikut andil dalam membangun  bangsa Indonesia yang kita cintai ini”, paparnya.


banyaknya peserta yang datang memadati Aula tempat diskusi berlangsung sehingg tidak sedikit peserta yang tidak mendapat tempat duduk, mereka pun harus rela berdiri. Mewakili pihak penyelenggara, Syamsuddin Arif tetap berharap agar para peserta tidak bosan dan jenuh untuk selalu hadir mengikuti suguhan-suguhan ilmiah yang dihadirkan oleh INSISTS.


 “Ada pun minimnya fasilitas, saat ini kita dalam proses pembangunan agar kita semua bisa nyaman berada di tenpat ini.  Semoga para hadirin tidak bosan ke sini. Mari jadikan INSISTS sebagai rumah kita bersama”, kata Dosen Pascasarjana Unida Gontor dan UIKA Bogor ini.


Selanjutnya Dr. Adian Husaini dipersilahkan menyampaikan orasi ilmiahnya. Sebagai salah seorang pendiri INSISTS, ia menyampaikan bahwa selama 14 tahun berdirinya INSISTS hingga saat ini terus mengalami perkembangan yang semakin maju dan matang. Bahkan sedang dalam proses mendirikan perguruan tinggi yang akan dikelola langsung oleh INSISTS.
“Sedang kita upayakan agar INSISTS membuka perguruan tinggi dan menjalankan perkuliahan secepatnya, perizinan sedang dalam proses”. Ujar Pak Adian.


 Dalam menjabarkan agenda peradaban umat Islam tahun 2017 dia mengatakan bahwa seharusnya kita mengikuti dan menjaga semangat 212.  Dan salah satu semangat yang harus kita tingkatkan adalah semangat membangun peradaban dengan berdasarkan pada jati diri sendiri. Sebab tidak ada peradaban yang bisa bertahan jika sudah hilang identitas dirinya. Jika generasi kita ditanya, apa yang dimaksud dengan peradaban maju, maka jawaban mereka adalah yang maju dari segi fisik, maka Barat adalah negara maju. Padahal sejatinya kemajuan dan peradaban tidak hanya dinilai  dari segi fisik.


Pemikiran sekuler yang mengajarkan bahwa kesuksesan pembanguan dinilai dari segi fisik dapat disaksikan pada generasi mudah sekarang. “Coba kita tanyakan pada generasi sekarang tentang jenis-jenis kebutuhan bagi manusia, pasti mengacu pada konsep Barat seperti kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Primer pasti larinya pada kebutuhan fisik, makan, minum, dan sebagainya, demikian pula dua kebutuhan lainnya, semua terkait dengan benda. Namun tahukah kita bahwa jiwa itu tidak butuh makanan seperti nasi, rawon, pecel, dan sejenisnya. Yang diperlukan jiwa adalah ilmu dan ibadah, itulah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah”. Papar Inisiator MIUMI ini.


Dalam ranah pendidikan, Adian Husaini menyoroti kerusakan pendidikan yang terjadi pada sistem dan kurikulum kita sekarang. Kita dapat saksikan bahwa  banyak mahasiswa yang belajar agama tapi ujung-ujungnya meragukan agama, belajar tarbiyah tapi makin tidak terpelajar, belajar Ushuluddin namun justru makin jauh dari tauhid. Maka ia pun menawarkan konsep katanya,  “Metode pendidikan yang terbaik  dalam sejarah adalah merujuk pada Islam sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah yang terbukti melahirkan sahabat yang hebat, cerdas, pakar strategi perang, praktisi ekonomi, dan sebagainya”.


Strategi membangun peradaban selanjutnya menurut Adian Husaini adalah menegakkan amar ma’ruf nahy mungkar, sebab menurunya, Amar ma'ruf nahy mungkar ini akan menentukan mati dan hidupnya umat, dan apa bila itu telah ditinggalkan maka hilanglah keberkahan ummat, demikian pula, jika umat sudah saling caci dan mengejek antar sesama, maka tidak ada lagi persatuan hingga peradaban pun akan punah .


“Tidak hanya itu, menurutnya peradaban harus dibangun dengan komprehensif, sehingga sektor-sektor penting dalam berbagai bidang kehidupan tidak bisa dilewatkan melainkan harus ikut berkontribusi, bahkan harus berperan sentral,” tukas Adian Husaini.


Penulis buku “Wajah Peradaban Barat” ini menegaskan bahwa tradisi Islam dan sekuler di Indonesia adalah tradisi dialog, ada pun terkait dengan poliitk praktis, maka itu diserahkan pada politikus yang berkecimpung lewat partai. Nah, tradisi dialog ini yang dipelihara dan dikembangkan oleh INSISTS. (Jakarta, 31/12/2106).


Dilaporkan oleh Ilham Kadir, Peserta Kajian dari Sulawesi Selatan.

kalau difikir2 ada benarnya silahkan rekan-rekan berkontemplasi

Apa sahabat pernah berpikir mengapa Indonesia sulit sekali untuk maju seperti Negara Jepang, Korea, atau Amerika Serikat?
Bahkan Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia pun sudah jauh lebih maju dari Negara kita.
Seorang ekspatriat asal Amerika, Jane Jhonson melakukan observasi akan hal ini dan menemukan beberapa titik lemah yang membuat Indonesia sulit Maju :

1. Orang Indonesia itu MALAS!
Rata-rata orang Indonesia itu malas dan suka mengeluh. Contoh yang paling sederhana namun konkret adalah dalam hal “membuang sampah”. Hal yang begitu mudah seperti membuang sampah pada tempatnya saja malas dilakukan, gimana negaranya bisa maju? Kota-kota di Indonesia sampai identik dengan jalanan yang banyak sampah.

2. Image pemerintah Indonesia : Pemakan Uang Rakyat
Apa yang pertama kali terbersit di benakmu bila ditanya cara kerja pemerintah Indonesia? Yap, apalagi kalau bukan korupsi..
Tiap hari ada saja berita tentang korupsi, yah.. berawal dari malas tapi pengen kaya, jadinya ambil jalan pintas makan uang rakyat 😓 Hal ini juga disebabkan oleh hukum yang (dibuat) tidak jelas dan tidak tegas.

3. Minimnya investasi di Indonesia
Mengapa Negara lain menghindar untuk investasi di Indonesia? Kembali lagi pada poin diatas, pemerintahannya saja tidak benar, gimana mau dilirik investor?

4. Orang Indonesia itu Hipokrit
Apa itu Hipokrit? Hipokrit itu orang-orang yang manis diluar, busuk didalam. Orang Indonesia sering kali tidak senang atas kemajuan dan keberhasilan orang lain, suka banget ngiri gitu deh.. 😭

5. Orang Indonesia terkenal Sensi
Sensitif adalah sifat yang identik sekali dengan orang Indonesia. Banyak sekali orang Indoensia yang kurang berhati lapang, jika di kritik dan diberi nasihat bukannya berterima kasih, malah ngga bisa terima dan berontak balik..

6. Keamanan Indonesia amatlah buruk
Indonesia adalah Negara yang sangat tidak aman, banyak kejahatan disebabkan sifat dasar pemalas tadi

7. Terlalu Birokratik
Di Negara maju seperti Amerika, setiap rakyatnya didorong untuk mengekspresikan diri dan kreatif, sehingga anak-anak muda disana lebih kreatif. Di Indonesia, terkadang mau mendirikan satu perusahaan saja sulit sekali, karena terlalu banyak aturan ini itu. Hal ini menyebabkan lambatnya pembukaan lapangan kerja baru.

Itulah berbagai pandangan tentang Indonesia menurut Jane. Tidak ada pandangan yang muncul tanpa observasi. Mungkin tidak semua orang Indonesia seperti pandangan di atas, banyak juga orang-orang Hebat di Indonesia yang sangat diakui dunia karena kehebatannya.

Yuk kita mulai dari diri kita dan keluarga kita :
1. Berhenti jadi pemalas
2. Berhenti mengeluh
3. Berhenti jadi orang Hipokrit
Dan yang terpenting …..

Berhenti Menyusahkan Orang Lain!
Buang sampah sembarangan :
bikin banjir yang menyusahkan orang lain
Jalan lambat di jalur cepat :
bikin macet dan menyusahkan orang lain
Menyerobot antrian :
menghambat orang yang mengantri dan menyusahkan orang lain
Menyetop angkutan umum sembarangan :
membuat macet dan menyusahkan orang lain
Dst…

Semoga kita bisa berpartisipasi menjadikan Indonesia menjadi lebih maju dimulai dari diri kita sendiri!

pembacaanku pada kontext kekinian aku cenderung sepakat dengan adanya REFORMASI BIROKRASI KEUANGAN


 Beberapa contoh reformasi birokrasi keuangan, perbendaharaan, perencanaan dan penganggaran diarahkan pada upaya-upaya mencegah dan mempercepat pemberantasan korupsi, secara berkelanjutan, dalam menciptakan tata pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa (good governance), pemerintah yang bersih (clean government), dan bebas KKN
 Dapat disederhanakan pengertian reformasi birokrasi, pelayanan publik, dan pemberantasan korupsi sebagai berikut :
1.perubahan mind-set, cara berpikir (pola pikir, pola sikap, dan pola tindak);
2.perubahan penguasa jadi pelayanan
3.mendahulukan peranan dari wewenang
4.tidak berpikir output tetapi outcome
5.perubahan manajemen kinerja; dan
6.pemantauan percontohan keberhasilan (best practices); dalam mewujudkan good governance, clean government (pemerintah bersih), transparan, akuntabel, dan profesional), dan bebas KKN; dan
7.penerapan formula “bermula dari akhir dan berakhir di awal”.
Tujuan reformasi birokrasi membangun aparatur negara yang efektif dan efisien serta membebaskan aparatur negara dari praktik KKN dan perbuatan tercela lainnya, agar birokrasi pemerintah mampu menghasilkan dan memberikan pelayanan publik yang prima. Salah satu penopang reformasi birokrasi adalah terciptanya sistem manajemen yang baik, meliputi sistem pelembagaan dan pengorganisasian, manajemen kepegawaian berbasis kinerja, ketatalaksanaan, pengelolaan asset dan barang milik negara, pengelolaan keuangan, perencanaan dan penganggaran, pengawasan dan akuntabilitas.
 Reformasi Birokrasi keuangan dilihat dari pelaksanaan dari berbagai macam bentuk sistem keuangan negara tentang :
1.Keuangan: UU 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; UU 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara, PP 53 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
2.Perencanaan: UU 25/2004 (Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional);
3.Pembangunan daerah : UU 32/2004 (Pemerintahan Daerah) dan UU 33/2004 (Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah); dan
4.Peraturan perundang-undangan terkait lainnya
Akuntabilitas Kinerja Aparatur: Pemahaman tentang akuntabilitas terus ditingkatkan dan diupayakan agar diciptakan Kinerja Instansi pemerintah yang berkualitas tinggi, akuntabel dan bebas KKN ditandai oleh Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang efektif, sistem dan lingkungan kerja yang kondusif: berdasarkan peraturan dan tertib administrasi, terlaksananya sistem akuntabilitas instansi yang berguna sebagai sarana penilaian kinerja instansi dan individu oleh stakeholders (atasan, masyarakat, dan pihak lain yang berkepentingan) didukung sistem informasi dan pengolahan data elektronik yang terpadu secara nasional dan diterapkan di semua departemen/lembaga di bidang perencanaan dan penganggaran, organisasi dan ketalaksanaan, kepegawaian, sistem akuntansi keuangan negara yang dikaitkan dengan indikator kinerja dan pelayanan masyarakat, dan aparatur negara yang bebas KKN (kondisi yang terkendali dari praktek-praktek penyalahgunaan kewenangan dan penyimpangan serta pelanggaran disiplin, tingginya kinerja sumber daya aparatur dan kinerja pelayanan publik).
 Pengawasan: Diharapkan terbangun sistem pengawaan nasional dengan elemen-elemen pengawasan fungsional, pengawasan internal, pengawasan eksternal, dan pengawasan masyarakat, ditandai oleh sistem pengendalian dan pengawasan yang tertib, sisdalmen/waskat, wasnal, dan wasmas, koordinasi, integrasi dan sinkronisasi aparat pengawasan, terbentuknya sistem informasi pengawasan yang mendukung pelaksanaan tindak lanjut, serta jumlah dan kualitas auditor profesional yang memadai, intensitas tindak lanjut pengawasan dan penegakan hukum secara adil dan konsisten.
 Berkenaan dengan perubahan paradigma sistem pemerintahan dan tuntutan masyarakat, maka perlu dilakukan reformasi di bidang keuangan sebagai perangkat pendukung terlaksananya penerapan good governance. Reformasi pengelolaan keuangan dilakukan dengan cara:
1.Penataan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum;
2.Penataan kelembagaan;
3.Penataan sistem pengelolaan keuangan negara; dan
4.Pengembangan sumber daya manusia di bidang keuangan.
Dalam pelaksanaannya, ada empat pendekatan yang digunakan dalam merumuskan keuangan negara, yaitu dari sisi obyek, subyek, proses, dan tujuan. Obyek Keuangan Negara meliputi semua ”hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.” Selanjutnya dari sisi subyek/pelaku yang mengelola obyek yang ”dimiliki negara, dan/atau dikuasai oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perusahaan Negara/Daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara.”
 Dalam pelaksanaannya, proses pengelolaan Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan pertanggunggjawaban. Pada akhirnya, tujuan pengelolaan Keuangan Negara adalah untuk menghasilkan kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan obyek KN dalam rangka penyelenggaraan kehidupan bernegara.

mari kita renungkan lagi sistem2 birokrasi2 didalam negeri kita sudahkah mengalami keberpihakan terhadap rakyat dan melahirkan efisiensi sirkulasi perekonomian.
abadi perjuangan!
malang, 19 Feb 17.

Senin, 06 Februari 2017

Islam dan pembebasan kaum tertindas



“Aslama yuslimu” yang bermakna menyelamatkan, memberikan kesejahteraan fakta dilapangan yang kita tahu justru umat islam sekarang sedang tidak memiliki aset perekonomian, umat islam sedang tidak kuasa terhadap kemandirian dirinya, kesenjangan dilapangan jarak antara si kaya dan si miskin sangat berbeda jauh sangat tajam, berbanding sangat drastis dibanding orde lama pasca reformasi semua serba bebas dan liberal, pasca reformasi semua legal, si kaya legal dengan penghasilan perbulan 500 juta sedangkan jumlahnya jutaan, sedangkan yang berpenghasilan 500 ribu hingga 700 ribuan jumlahnya juga sangat banyak tidak kalah dengan yang berpenghasilan 500 juta, maka data ini bisa kita jadikan bahan refleksi sebagai kaum muslim dan sebagai kaum mayoritas sebagai pelaku sejarah direpublik ini, teologi pembebasan seolah hanya menjadi spirit belaka, tanpa praksis yang nyata, maka dengan adanya fenomena ini kita harus kembali memformulasikan gerakan-gerakan baru diera milenium yang serba cepat tanpa pandang bulu, kekejaman kapitalisme sudah mendarah daging sampai kerelung-relung tubuh kemanusiaan, tanpa pandang dia kaum proletar ataupun kaum terdidik, sehingga aktivis pun ikut terseret kelubang yang serupa, sejarah bangsa ini, islam dimasa lalu, harusnya mampu kita jadikan bagian dari referensi kita untuk kembali bangkit dari tidur yang terlalu lama kita harus tau diri sehinga what next kita mampu memformulasikan dengan pendekatan teknik yang mujarab, sehingga seluruh elemen mampu tersentuh oleh air mata islam sebagai spirit pembebasan, kemiskinan harus kita lawan, para kaum dhuafa’ harus kita sentuh dan bebaskan dari belenggu ketidak mampuan mereka untuk memerdekakan dirinya sendiri, apapun agama dia, apapun keyakinan dia, apapun ras dan suku apabila sudah berujung kepada aspek kemanusiaan kita harus hadir dan terpanggil tidak ada tendeng aling-aling bila dia adalah manusia, harus kita selamatkan tidak ada yang berhak mencabik-cabik nilai-nilai kemanusiaan, apalagi dia adalah islam kita harus sangat berpihak dan bahkan kita harus mampu mengangkat derajat dirinya sehingga kita mampu menjadi kaum yang memang betul-betul seperti yang difirmankan oleh Allah didalam Al-Qur’an “kuntum khoriu ummatin ukhrijat linnasi” artinya kemudian kita adalah umat terbaik, islam ya’lu wala yu’la alaih, energi ini, sugesti ini harus masuk kealam bawah sadar para aktivis muslimin sehingga kita akan berjuang selama-lamanya demi merealisasikan apa yang dicita-citakan oleh islam bangsa dan persyarikatan Muhammadiyah bila kita berbicara organisasi, seperti yang disampaikan oleh buya syafi’i maarif, bahwa “islam yang sebenar-benarnya adalah yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan kemanusian, dan Muhammadiyah yang sebenar-benarnya adalah yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan kemanusiaan” begitulah seyogyanya, sehingga spirit kita harus bangkit dan kembali bersatu dalam aksi-aksi altruisme, sehingga kita mampu meremajakan para kaum marginal sekalipun, bahkan bisa membantu mereka untuk bertranformasi sosial sehingga mempunyai martabat dan dimuliakan, apapun masa lalu mereka, sekelam apapun mereka, mereka memiliki hak yang sama dengan manusia pada umumnya, negara harus hadir bila tidak hadir maka LSM, NGO, Ormas harus memaksa negara agar memperhatikan, karna angka kemiskinan setiap tahun bukanlah permasalahan sederhana ini adalah permasalahan yang cukup serius dan cukup fundamental, tidak kalah seriusnya dengan permasalahan politik, sosial, budaya ayahanda said tuhuleley kita tidak pernah berkata “tidak ada kalimat istrirahat selama rakyat masih menderita” bahkan beliau pak said tidak menikah, karna kerja-kerja sosial dia lalui begitu khidmat salam hormatku padamu pak said, karna kaulah inspirasi para kader muda Muhammadiyah kami, selamat jalan, negara kita memang memiliki sistem yang begitu rumit, meminjam istilah dari pak kuntowijoyo dinegara kita ini banyak kaum mustadafin, alias dimiskinkan karna struktur sosialnya dan sistem pemerintahanya mendukung untuk kita masuk dari bagian kaum mustadafin, bila azumardi azra menyampaikan bahwa kaum miskin di negara kita apabila penghasilan sehari dibawah angka 20 ribu, sungguh miris hampir seluruh mahasiswa yang tidak bekerja tergolong mereka miskin, maka beban negara ini tidak ringan, tentu sangat berat bila tidak dibantu dengan sikap antisipasi dari jauh-jauh hari wassalam, maka kita harus mampu merekayasa dimasa yang akan datang akan ada banyak perubahan-perubahan sosial disegala sektor kehidupan berbangsa kita dan bernegara kita, antisipasi ini harus massif dan tersruktur agar masyarakat mampu mengantisipasi, bila tidak tamat sudah riwayat bangsa ini dengan jutaan umat muslim didalamnya, sungguh aneh dan malasnya kita bila tidak mampu berkompetisi dengan dunia global yang sangat ganas dan tanpa ampun, persaingan dan kompetisi sudah menjadi keniscayaan, maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus mempersiapkan diri, untuk kemungkinan-kemungkinan dimasa yang akan datang , dunia lapangan kerja semakin sempit kompetisi dari warga negara asing semakin mencengkram negeri ini tidak bisa elakkan, bedebah diri kita bila hanya menjadi penonton warga muhammadiyah tentu harus merespon isu besar ini, strategi jitu harus kita formulasikan untuk kemajuan islam dan bangsa ini, pembebasan kaum dhuafa maupun kaum mustadhafin merupakan kerja kolegtive, bukan kerja pribadi alangkah beratnya bila dikerjakan segelintir orang, apapun tantanganya kedepan kita harus persiapkan lagi-lagi saya tekankan untuk terus memproyeksikan SDM dimasa yang akan datang untuk siap tanding, dengan berbagai kalangan diluar sana, baik disektor ekonomi, sosial, politik, dan budaya, kita harus mampu mencetak para ekonom-ekonom handal dan militan, berintegritas, kita harus mampu melahirkan para entrepeneurship yang mampu menyediaakan lapangan pekerjaan bagi khalayak umum, fenomena yang ada justru kaum muslimin dibiarkan berdagang dipinggir sawah dan hanya menerima apa adanya, nerimo ing pandum sungguh dogma-dogma masa lalu dikalangan jawa masih cukup mengakar ditubuh para kaum jawanism, sehingga para chines bussines mereka menjarah dipusat tengah-tengah kota sungguh luar biasa, kita selalu menjadi penonton, kita selalu mengeluh tanpa hadir dengan sebuah solusi ataupun alternatif, tapi kita tidak boleh pesimes karna kitab al-qur’an mengajarkan kepada kita untuk selalu senantiasa optimis dalam memandang masa depan, “ya ayyuhalladzi na amanu wal tandzur maqoddamat lighod” sehingga kita harus terus berinovasi dan berkreasi untuk menjawab tantangan-tantangan dimasa yang akan datang, keras memang tapi indah bila dijalani, tugas kita memang tidak mudah, tugas kita penuh perjuangan, apalagi kaum muda harus terus hadir ditengah gegap gempitanya negeri ini, jangan pernah lari, anak muda harus siap pasang badan untuk masa depan negerinya, bangsanya dan umat islam pada khususnya, tidak bisa dipungkiri motor penggerak perubahan bangsa ini sesungguhnya ada dipara pemudanya, bila pemudanya loyo tanpa spirit sudah bisa dipastikan akan segera selesai, pemuda identik dengan perubahan, pemuda identik dengan semangat yang meletup-letup tak boleh lari apalagi pergi, apalagi mundur bila itu terjadi sudah jelas dia adalah penghianat, kita harus mendobrak kemampanan, kita harus sadarkan para bedebah di NKRI agar mereka sadar mereka tidak sedang main-main dengan manusia pilihan sehingga saya betul mengidam-idamkan cita-cita negara ini betul-betul terwujud mandiri, sejahtera, makmur, adil, dan berdaulat disegala sektor hingga disebut didalam al-Quran “baldatun toyyibatun warobbun Ghofur”  dan pemuda harus mampu menjadi pelayan untuk masyarakat seperti slogan Day to day to delevery service.
oleh IMMawan Ahmad Zia Khakim (Abdi Revolusi)

Sengketa Pilpres 2024 di Ajukan di Mahkamah Konstitusi

  Foto Hanya Pemanis 😁 With Prof. Dr. Arief Hidayat , SH, M.S. salah satu Hakim Mahkamah Konstitusi RI Dalil permohonan kecurangan pilpres ...