Senin, 31 Desember 2018

Momentum kebangkitan Peradaban Indonesia 2019 M.









Momentum kebangkitan Peradaban Indonesia 2019 M.
#Lihatlah bintang diatas langit sungguh Sangat Amat banyak...
#Keinginan Kita dimasa yang Akan datang seperti Bintang-bintang bertaburan dimana-mana
#Fokuslah Mencari Bintang Yang Paling Bercahaya satu saja.
#Artinya itulah Impian di tahun 2019 yang Paling di Inginkan untuk diwujudkan
Contohnya
1. Terdaftar sebagai Mahasiswa kembali
2. Menulis
3. Menikah
4. Umroh dkk.
#Harus Lebih baik lagi dan Lebih Baik lagi dan seterusnya
#Instruksi Man kaana Yaumuhu khoirun min Amsihi Fahuwa Robih : itu berlaku Untuk segala lini Kehidupan Kita.
#Barang Siapa yang Hari ini lebih Baik Dari Hari kemaren Maka termasuk orang-orang yang beruntung.
#Penulis mengajak Mari Tumbuhkan Niat Di Tahun yang Baru ini.
#Jaddidu Niyatakum Daiman Wa Daiman..
Perbaharuilah Niatmu. Niatmu...terus menerus
#Minimal Niat untuk lebih Baik lagi dan seterusnya...
#Karena niat adalah Setengah dari pekerjaan (Nisful Amal)
#Lupakan masa lalu ambil pelajaran- pelajaran berharga dimasa silam
#Fal tandzur Nafsum maqoddamat Lighod..maka Lihatlah Dirimu atas Masa depanmu..
#Hadirlah di Masa depan Dengan sepenuh Hati, penuh pemaknaan hidup dan Teruslah berusaha bermanfaat sekecil apapun itu dengan ketulusan hati.
#Setiap malam, seseorang akan tidur dan mati. Kemudian pagi harinya ketika ia terbangun, saat itu pula ia terlahir kembali.
By Mahatma Gandhi
#Lelaki yang berilmu pasti tidak hanya sanggup mencintai lawannya, tetapi juga teman-teman yang membencinya.
Didalam bukunya  “Thus Speak Zarathustra”. By Friedrich Nietzsche
#Mari terbar Cinta Dan mimpi Demi bangsanya
#Tiada yang lebih suci bagi seorang pemuda daripada kepentingan membela bangsanya sendiri by Pramoedya Ananta toer.
# kalau Islam tidak didudukan Sebagai peradaban, maka umat Islam Akan mencari peradaban lain, termasuk peradaban Barat
# guru tidak boleh Ada yang bercorak filmahdi yang melanggengkan kemasa laluan. Harus bercorak ashariah (Dari kata Al-ashr) Kesaatkinian, yang memproduksi kebaharuan.
By Haidar Nashir
Setiap Kita adalah guru (Memaknai pesan Alm. KH. Imam Zarkasyi)
Oleh A. Zia Khakim.
Blitar, 01 Januari 2019
Edisi semedi di Makam Bung Karno

Jumat, 28 Desember 2018

Guru Besarku Menulis Alm. Nasrullah Zainal Muttaqin Zarkasyi

Jurnalis Alumni Gontor sangat kehilangan Pak Atul. Beliaulah guru para jurnalis dan mantan jurnalis alumni gontor. Beliau juga yang sangat antusias dan memprakarsai berdirinya Jago.

*Apel Pak Atul*
Oleh Ahmad Fuadi, Alumni Gontor, Country 1992, IG @afuadi

Pagi itu, 11 Desember 2018, kabut tipis masih mengapung di atas tanah Gontor. Saya berjalan agak terburu sambil melirik arloji. Jam 6.45 sebelum jaros di depan qo’ah berdentang, saya sudah berdiri di depan sebuah rumah mungil dan sederhana di komplek Buyut Makkah. Beberapa kali diketok, pintu triplek berkelir coklat pupus itu tidak kunjung terbuka. Saya pikir wajar, karena saya bertamu kepagian, dan saya tidak membuat janji pula dengan sahibul bait. Kedatangan mendadak saya ini agak coba-coba saja, sayang kalau ke Gontor tidak menyalami beliau. Dia, Pak Atul, atau lengkapnya Ustad Nasrullah Zainal Muttaqin Zarkasyi

. Dia saya anggap salah satu guru dan inspirator menulis saya sejak nyantri di pondok dulu.

Merasa tidak enak karena pintu tidak juga dibuka, saya sudah beringsut pergi. Tiba-tiba pintu berderik terkuak. Dan di balik pintu, muncul wajahnya. Sekilas sangat mirip dengan wajah ayahnya, KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Gontor. Dia keluar sambil mengancingkan buah baju bagian atasnya.

“Ah ente. Fuadi,” sambutnya dengan suara gelaknya yang khas. Kami duduk di sofa cokelat, ditemani teh hangat. Seperti biasa dia kerap tersenyum kalau sudah mengobrol hangat, topiknya sangat beragam, bisa hilir mudik dari Barat sampai Timur. Ingatannya selalu tajam dan daya apresiasi sastranya kuat. Saya kebetulan mengajak Pak BR, seorang teman yang menjadi investor utama film-film laris. Segera Pak Atul terlibat diskusi menarik karena dia ingat dengan detil beberapa adegan film itu.

Semangat dan energinya tetap sama. Ketawanya masih berderai. Cuma saya menangkap kesan dia agak sedikit letih. Badannya tampak lebih kurus dari yang pernah saya lihat setahun dua tahun lalu. Di lengannya tampak beberapa bintik dan benjolan hitam. Mungkin jejak jarum untuk rutinitas cuci darahnya. “Saya sudah ikhlas,” katanya sambil tertawa tanpa beban, saat menyinggung kegiatannya bolak-balik ke rumah sakit ini.

Saya lalu pamit dan mendoakan beliau sehat dan terus bisa menginspirasi santri untuk menulis dengan baik. Banyak kenangan personal saya dengan Pak Atul sejak dulu. Sekitar tahun 1990, saat Gontor belum kenal PLN dan listrik masih mengalir dari mesin generator, Pak Atul sudah punya komputer yang canggih di masa itu, sebuah Apple Macintosh Classic. Di sebuah ruang kerja kecil yang diapit rumah Pak Syukri dan Perdos, saya dan teman saya Kholil diizinkan memakai komputer itu sampai subuh, ketika mengedit tulisan untuk majalah. Malam-malam dia muncul. “Akhi ini buat kalian.” Dia mengantarkan penganan dan qohwah untuk menemani kami sahirul lail. Kok ya dia percaya saja sama santri yang baru belajar pakai komputer ini. Padahal itu barang mahal yang masih jarang dimiliki orang.

Di pertemuan kelas 5 atau kelas 6 di BPPM, dengan penuh semangat dia ajari kami menulis karya ilmiah. Sesekali dia datang ke kantor redaksi Itqan di Tunis lantai 2, dia selalu memberi tasyjik yang membuat kami semangat menulis berlembar-lembar setelah itu. Dia juga kerap membawa majalah Tempo dan menyarankan kami untuk belajar menulis jurnalistik yang baik seperti kualitas wartawan Tempo. Mungkin karena ini saya akhirnya benar-benar jadi wartawan Tempo selepas dari Gontor.

Saat saya akan menerbitkan Negeri 5 Menara, dia ikut membaca manuskrip dan memberi masukan berharga. Pernah ada wartawan ingin mewawancarai guru menulis saya, tak ragu saya menyebut nama Pak Atul, dan dia lalu diwawancara oleh SCTV.  “Dalam sastra itu ada yang disebut denouement..perenungan itu luar biasa buat saya,” katanya waktu itu memuji buku saya. Ah, saya saja baru dengar apa itu denouement. Pak Atul memang kerap menyisipkan ilmu baru atau teori sastra dalam obrolannya. Posisinya cukup unik di Gontor, saat kebanyakan guru senior tamatan universitas berbasis Islam, maka Pak Atul adalah sarjana sastra dari UGM. Di Gontor yang menggunakan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa resmi, maka dia berperan sangat penting sebagai penjaga bahasa Indonesia Gontor.

Petang ini, tepat 17 hari setelah saya mengetok pintu triplek di Buyut Makkah, saya membaca pesan duka di WAG Jago, grup para jurnalis dan mantan jurnalis alumni Gontor. Pak Atul, inspirator menulis saya ini wafat di RS Darmo Surabaya. Saya tatap lagi foto-foto kami di HP dari dua pekan lalu yang rasanya baru kemarin.

Selamat jalan Pak Atul. Mungkin karena antum sudah ikhlas, sekarang antum tak perlu lagi wajib cuci darah berkali-kali tiap bulan. Semoga semua keikhlasan antum mengajar saya, anak-anak Itqan dan Darussalam Post, dan semua santri Gontor, menjadi investasi akhirat antum. Semoga ketekunan antum menjalani rutinitas mengajar dan pengobatan, menjadi prosesi cuci rohani antum menuju husnul khatimah.

Terima kasih Pak Atul. Di setiap huruf dan kalimat yang saya tulis di novel dan buku saya, saya merasa ada jejak sidik jari antum. Dan ini Insya Allah jadi amal jariyah antum.  Lakum alfatihah.

Rabu, 26 Desember 2018

"Musibah atau kebangkitan Peradaban" Oleh A. Zia Kh




Indonesia terguncang kembali tanpa jeda.
Lombok. Donggala. Palu. Kapal tenggelam didanau Toba, Pesawat GT610, Gubeng surabaya Ambles, hingga selat Sunda.banten dan lampung utara.

Introspeksilah. Bahu membahulah wahai segenap Elemen anak Bangsa Indonesia.

Arieflah melihat fenomena Dan ayat-ayat
Tanda-tanda

Gunung akan meletus.meluluh lantahkan. Lautan akan luber Tsunami.
Bumi akan gempa dan seterusnya

Telaah Jepang karena shock yang begitu panjang ledakan peristiwa hiroshima Nagasaki.
Memicu kebangkitan peradaban Jepang.
Bergegaslah mengambil pelajaran.
Untuk kembali menata puing- puing peradaban.

 Jangan justru sibuk menghakimi.
Ribuan korban yang Telah kembali.

Sekali lagi!
Mari introspeksi
Mari bahu membahu.
Mari Berdoa.
Mari kembali membangun!
Saling menguatkan dalam kedamaian dan ketenangan meskipun riuh dalam tangisan

Dunia memang sedang dalam kerusakan/distruption! disaat yang sama penjajahan juga masih sangat nampak.new collonialism

Bersatulah!
Lawanlah!
Merenunglah!
Agar dengan cermat mengambil sikap.!

Selasa, 18 Desember 2018

Produk Pemikiran Yurisprudensi Oleh Bung Zia


Yurisprudensi terdiri atas dua kata, yakni yuris dan prudensi (prudensial). Yuris 
artinya ahli hukum atau sarjana hukum, dan prudensial artinya bersifat bijaksana.
Yurisprudensi adalah ajaran hukum melalui peradilan atau himpunan putusan hakim. Kata jurisprudence (Inggris) artinya ilmu hukum. Yurisprudensi dalam bahasa latin ialah ius/iuris berarti hukum dan prudentia berarti keahlian atau kecakapan, sehingga  yurisprudensi berarti keahlian atau kemampuan dalam bidang hukum. Yurisprudensi merupakan ilmu tentang prinsip-prinsip utama hukum yang mengkhususkan diri pada 
bidang hukum dalam berbagai aspeknya: analisis tradisionalnya, sejarah asal mula dan  perkembangannya, serta karakter ideal hukum tersebut. Dalam Kamus Hukum  yurisprudensi tertulis jurisprudentie (Belanda) adalah putusan-putusan pengadilan yang  dapat dianggap suatu sumber hukum, karena bila sudah ada suatu yurisprudensi yang 
tetap, maka akan selalu diikuti oleh hakim-hakim dalam memberikan putusannya. Oleh karena itu, yurisprudensi merupakan serangkaian keputusan majelis hakim yang 
kemudian dirangkum dalam suatu putusan pengadilan untuk dipedomani oleh para  hakim dalam pemberlakuan peraturan hukum untuk mengadili dan memutuskan  perkara yang serupa. Yurisprudensi yang paling tinggi kekuatan hukumnya adalah  keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Produk pemikiran yurisprudensi merupakan hasil pemikiran hukum Islam dari  keputusan Pengadilan Agama, keputusan Pengadilan Tinggi Agama, dan keputusan Mahkamah Agung, sehingga dijadikan sebagai hasil dari formulasi hukum Islam yang  kemudian melahirkan keputusan hukum tetap dan mengikat.
Yurisprudensi sebagai salah satu dasar hukum di Indonesia, sangat memegang 
peranan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan hukum Islam. Kedudukan  yurisprudensi dalam penerapan hukum Islam sangat penting, sebab yurisprudensi  disusun secara sistematis dan metodologis untuk dapat memahami sumber pokok  hukum Islam, yakni al-Qur’an dan hadis. Al-Qur’an dan hadis memuat peraturan- peraturan dasar atau pokok-pokoknya, sehingga diperlukan alat bantu untuk lebih 
memahami ajaran dasar tersebut seperti yurisprudensi. Pemberlakuan yurisprudensi  sebagai bagian dari jenis-jenis produk pemikiran hukum Islam, dapat menghasilkan 
berbagai materi hukum Islam seperti yang tersusun dalam Kompilasi Hukum Islam 
(KHI) di Indonesia.
Gagasan untuk mengadakan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, mulanya 
dikemukakan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, 
M.A. pada bulan Februari 1985 di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Mulai saat itu para akademisi dan praktisi hukum Islam mulai menggelinding dan mendapat respons yang positif. Malahan Presiden Republik Indonesia (Soeharto) mengambil prakarsa untuk melahirkan gagasan mengadakan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Pada tanggal 
25 Maret 1985, Mahkamah Agung dan Menteri Agama mengeluarkan keputusan dan 
 menandatangani bersama di Yogyakarta berdasarkan Nomor 07/KMA/1985 dan Nomor 
 25 Tahun 1985.50
Penandatanganan tersebut dilakukan oleh kedua belah pihak di depan Ketua-
ketua Pengadilan Tinggi Agama, Ketua-ketua Pengadilan Tinggi, dan Ketua-ketua 
 Pengadilan Tinggi Militer se-Indonesia. Isi dari keputusan bersama tersebut adalah 
proyek “Pengembangan Hukum Islam melalui Yuriprudensi.” Yurisprudensi itu 
dinamakan Kompilasi Hukum Islam yang dilaksanakan oleh sebuah tim pelaksana 
proyek. Tugas dari tim pelaksana proyek tersebut mengkompilasikan aturan hukum 
Islam yang diambil dari berbagai sumber dan mencakaup seluruh wilayah Indonesia. 
Sehingga pada tanggal 10 Juni 1991 keluarlah Instruksi Presiden Republik Indonesia 
Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam dan diperkuat oleh Keputusan 
Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 154 Tahun 1991 tentang Pelaksanaan 
Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991 Tanggal 10 Juni 1991. Materi KHI tersebut 
memuat tiga buku, buku pertama memuat tentang perkawinan, buku kedua memuat 
tentang kewarisan, dan buku ketiga memuat tentang perwakafan.
Yurisprudensi tertinggi dalam hal ini Mahkamah Agung dapat membatalkan 
putusan pada tingkat Pengadilan Tinggi Agama. Putusan PTA tersebut dibatalkan oleh 
Mahkamah Agung oleh karena adanya pertimbangan hukum yang lebih kuat, sehingga 
Mahkamah Agung melahirkan yurisprudensi.
Penulis kebetulan juga di dalam skripsinya Menguak Beberapa Pasal di KHI Sehingga Ini adalah bagian Dari Kilas Balik. Begitulah adanya Diksi Yurisprudensi Dan kemunculan KHI.

Jumat, 14 Desember 2018

Gender dan Makna


Konsepsi Gender suatu sifat yang dilekatkan pada diri laki-laki ataupun Perempuan, yang kemudian dideskonstruksi secara sosiokultural. Misalnya, wanita mendapatkan Atribut yang disematkan penurut, lemah, dan pasif. sedangkan laki-laki mempunyai atribut kuat, aktif dan pengambil inisiatif. Konsep  yang terbentur secara kultural Sering Kali di perkuat melalui lembaga Pendidikan yang secara tersistematisasi membentuk budaya.
Gender lebih menekankan pada aspek Sosial budaya, psikologis, dan aspek-aspek nonbiologis Lainnya. Dampaknya kemudian kepada pendekatan gender yang kebih menitik beratkan pada aspek maskulinitas atau feminitas seseorang dalam Lingkungan Sosial Dan kultur tertentu. Dengan begitu maka pendekatan Gender adalah analisis pendekatan terhadap penggunaan bahasa yang dibentuk, disosialisasikan diperkuat, bahkan dilegitimasi oleh kondisi Sosial budaya Masyarakat pemakainya. 
Contohnya adalah pemakaian bahasa wanita merefleksikan konservatif, kesadaran prestis, peningkatan mobilitas, ketidak nyamanan, Hormat, pengasuh atau perawatan, ekspresi emosional ketertarikan, sensitif, solider; sedangkan laki-laki Memiliki  kecenderungan merefleksikan kekerasan, kekurang expresian, kompetitif, independen, kompetensi. Hirarki, dan kontrol meaning.
Selain itu, hakikat yang dimiliki oleh aktivitas mencari makna penerjemah adalah mengalihkan makna teks Dari satu bahasa kebahasa lain, penerjemah Tidak hanya memperhatikan aspek lingustik tetapi juga aspek nonlingustik.
Pada ikhwal ini, kegiatan para penerjemah gender harus mempertimbangkan pemahaman tentang hubungan antara seteriotipe Sosial Dan aspek Lingkungan, politik bahasa Dan Perbedaan kultur, serta etika penerjemah pencari makna.
Selain itu perlu juga diperhatikan oleh penerjamah yakni pentingnya pemahaman kontext kultur dalam text yang Akan diterjemahkan. Dia harus mengacu pada kontext kultur Kedua bahasa untuk menghindari distorsi padanan makna sekalipun Perbedaan later belakang  yang mempersulit penerjemah dalam menemukan padanan makna Text yang tepat Dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Penemuan padanan itu merupakan inti dari penerjemahan. Begitu pentingnya kultur dalam penerjemahan Gender, maka penerjemah harus mengambil keputusan. Sehingga kita bisa tahu Dari Mana sejauh Mana Kita mampu mengevaluasi Perbedaan nilai-nilai kultur diantara kedua bahasa. 
Karena para penerjemah faktanya kesulitan dalam nampak kesulitan dalam memahami kosa kata makna yang tampak aneh. 
Maka Solusinya adalah para penerjemah harus mampu merefleksikan realita-realita sosiokultural lokal Dan istilah-istilah khusus (Literary Word) yang terkandung dalam bahasa tersebut.

(Ahmad Zia Khakim.SH.) 

Majelis Hukum Dan HAM PWAisyiah Jawa Tengah

Sengketa Pilpres 2024 di Ajukan di Mahkamah Konstitusi

  Foto Hanya Pemanis 😁 With Prof. Dr. Arief Hidayat , SH, M.S. salah satu Hakim Mahkamah Konstitusi RI Dalil permohonan kecurangan pilpres ...