Bagiku mereka bukanlah orang kecil melainken orang-orang besar, karena sendari awal mereka tidak memikirkan dirinya sendiri, melainkan sedang proses belajar memikirken kemaslahatan orang banyak, semoga kelak diberi kekuatan untuk tetap istiqomah menegakkan agama islam, dan menyebar luaskan paham ajaran islam berkemajuan dan mencerahkan dibelahan negara manapun.
Laweyan
Rabu, 28 Agustus 2019
Selasa, 27 Agustus 2019
Menghadapi Keluarga
Biasanya kita terbiasa berbuat baik kepada orang lain tapi kepada keluarga kita terdekat malah justru ada jarak yang seolah-olah menyekat kita, keakraban kita, kedekatan kita, yaaaaa inilah hidup selalu ada sesuatu yang tidak baik-baik saja, tapi cukup semua dijalani saja apa adanya insyaAllah semua normal dan tidak ada apa-apa yang terpenting saling support dan saling mendoakan dalam kebaikan agar rahmatnya turun dan memberkahi setiap langkah keluarga kita semua dibelahan bumi manapun.
Selamat morning!
Selamat morning!
Skala Prioritas
Cobalah renungi kembali apakah betul kita butuhkan A, B, C, atau hanya ingin memilikinya tanpa ada azas manfaatnya, sama halnya soal ibu kota indonesia yang hari ini menjadi isu krusial di republik ini,
Perhatikan betul soal mahkota negara jangan gegabah untuk pindahkan sana sini, semoga terbaik buat negeriku, jangan gegabah sekali lagi, kajian kritis dan data yang akurat harus menjadi landasan.
Uji coba terlebih dahulu ke Universitas-universitas kalau memang ia pemerintah berkehendak.
Perhatikan betul soal mahkota negara jangan gegabah untuk pindahkan sana sini, semoga terbaik buat negeriku, jangan gegabah sekali lagi, kajian kritis dan data yang akurat harus menjadi landasan.
Uji coba terlebih dahulu ke Universitas-universitas kalau memang ia pemerintah berkehendak.
Senin, 26 Agustus 2019
Meresapi kejadian sekitar
Fenomena sosial selalu begitu menghanyutkan Jiwa dan perasaan, selain perihnya keadaan, juga perihnya kondisi, tapi prespektif mana yang hendak kita potret. Syukurkah? Atau malangkah?
tiap individu kita bisa belajar dari kenyataan bahwa hidup ini harus diresapi. Disyukuri dan dinikmati jangan pernah ragu dan bimbang untuk ucapkan syukur "Alhamdulillah"
tiap individu kita bisa belajar dari kenyataan bahwa hidup ini harus diresapi. Disyukuri dan dinikmati jangan pernah ragu dan bimbang untuk ucapkan syukur "Alhamdulillah"
Menapak Eksistensi Ilmu
Eksistensi ilmu, dengan Amal, jangan bermimpi ilmu bermanfaat tanpa diamalkan, karena hakikat ilmu pasti dan harus bermanfaat, ilmu adalah cahaya bagi pemakainya, penuntutnya, dan ilmu adalah penerang, penuntun, panglima bagi yang memilikinya, jangan segan-segan berkorban demi ilmu, sekali lagi saya tegaskan bahwa bila kita menghendaki mendapatkan dunia harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki Akhirat juga harus dengan ILMU
Minggu, 25 Agustus 2019
Berdoalah untuk Semesta
Sebagian dari kita tak pedulikan persoalan dunia hari ini, carut marut, ketegangan militer, kemiskinan yang mencapai stadium empat, dan seterusnya hingga persoalan bencana dan kemanusiaan, kita harus selimuti dunia ini dengan doa agar senantiasa, damai, aman, tentram, manusia yang didalam planet bumi hidup tenang dan hanya menghamba dan beribadah padaNya, tak lupakan memakmurkan bumi dan isinya.
selamat morning!
selamat morning!
Sabtu, 24 Agustus 2019
Bermetamorfosa dari peredaran
Mendekamlah untuk berubah, bersunyi-sunyi, melakukan perubahan individuasi, layaknya kepompong, yang akan berubah menjadi kupu-kupu.
Selasa, 20 Agustus 2019
Nasehat Ust Syarief Abadi
Dialog saya, dan Kyai besar Hariz, Pengusaha besar Yusron dengan Guru paling Sepuh dan senior di Gontor 1 yakni Ust Syarief Abadi,
Disela sela sebelum menyampaikan Tausiyah Walimatul urs untuk saudara kami Sunardi dan mempelai. saya dan teman-teman duduk disamping beliau sembari bertanya-tanya kesehatan dan keadaan keluarga beliau termasuk putra/putrinya yang masih bersekolah di dalam dan luar negeri, hingga persoalan dinamika pondok, kiprah para alumni dan seterusnya, ada julukan untuk beliau yakni "paku bumi gontor" salah satu yang "doanya Mustajab di Gontor ya beliau adalah ust syarief abadi". Guru Ushul fiqh,Fiqh, bidayatul Mujtahid, Hadis dkk, beliau rujukan para asatidz gontor se Indonesia,
beberapa kali saya bertanya lebih tua mana Ust Syarief abadi dengan Prof. Dien Syamsuddin? owwwwwh dia Murid saya, Saya Guru dya masih kelas 3, saya yang mengajar, sembari flasback nostalgia "dahulu terakhir ketemu di Mina pas saya haji ketika SBY masih jadi Menteri saya juga berjumpa, sepulang haji saya laporan ke Kyai Syukri, Nampaknya Hajad Pak SBY mau jadi Presiden di Kabulken! Hehe sembari senyum tertawa lepas ringan
kalau dengan Emha Ainun Najib? owwwwh Cak Nun itu satu angkatan dengan saya, dia itu nakal, mentang-mentang dia sekolah SRnya sudah di Gontor Satelit, punya Pak Carik jadi agak kemlinti. hehehe sambil tertawa ringan,
Owh iya Cita-cita trimurti pendiri Gontor supaya ada Seribu Gontor alhamdulillah perlahan sudah terwujud seindonesia bahkan se Dunia. "teringat ada Grand Mufti dari Mesir Seikhul Al Azhar " mewasiatkan agar terjadi Betulan 1000 Gontor di Indonesia
banyak obrolan-obrolan ringan teduh, mengalir sembari mengobati rindu dan rasa ingin belajar kembali kepada beliau.
seraya kami sebagai alumni meminta doa agar kelak jadi orang besar bisa punya jutaan manfaat untuk umat.
pesan beliau tapi ingat "selalu akan ada ujian dalam hidup" kalau ujian besar berarti kamu akan jadi orang besar dan seterusnya" lihat kisah-kisah nabi, semua penuh ujian dan tantangan" sembari saya menyebut Musa Musuh bebuyutannya Fir'aun, ust syarief abadi menambahi "Rosulullah" kepalanya diinjek di lempari tai, dan seterusnya Tapi apa yang beliau lakukan?? Fainnahum laya'lamuuuun..."mereka adalah orang tidak tahu dan mengerti" maka beliau memakluminya.
20 Agustus 2019
Jumat, 16 Agustus 2019
Selasa, 13 Agustus 2019
Qurban dan Kemiskinan
Renungan tentang kisah nabiIismail dan Ibrahim kembali di sampaikan oleh khatib
sejenak merasuki alam bawah sadar kita
bahwa nafsu, keserakahan, kecongkokan harus di penggal;
adakah manusia tanpa qurban
nampaknya kita tak sadari ritual tahunan ini
umat islam habiskan energi
distribusi memastikan semua memakan daging empuk
bahkan ada yang rela memanagement
itukah islam?
apakah kita sadar?
apa makna qurban sesungguhnya?
hewankah?
ke imanan kah?
atau hanya sekedar takbir- takbir- takbir
fikirkan
domba, onta. sapi, kambing dan sejenisnya
renungkanlah! wahai umatku
umatku
umatku
jangan kau keblinger keimanan
lalu tak paham pesan
sejenak merasuki alam bawah sadar kita
bahwa nafsu, keserakahan, kecongkokan harus di penggal;
adakah manusia tanpa qurban
nampaknya kita tak sadari ritual tahunan ini
umat islam habiskan energi
distribusi memastikan semua memakan daging empuk
bahkan ada yang rela memanagement
itukah islam?
apakah kita sadar?
apa makna qurban sesungguhnya?
hewankah?
ke imanan kah?
atau hanya sekedar takbir- takbir- takbir
fikirkan
domba, onta. sapi, kambing dan sejenisnya
renungkanlah! wahai umatku
umatku
umatku
jangan kau keblinger keimanan
lalu tak paham pesan
Minggu, 11 Agustus 2019
Jumat, 09 Agustus 2019
5 wanita dengan pesona keulamaannya
1.Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido
Yanggo
Beliau merupakan wanita pertama
dari Indonesia yang mendapatkan gelar doktor dengan predikat cumlaude, pada
konsentrasi Fikih Perbandingan Mazhab dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Perempuan kelahiran Donggala,
Sulawesi Tengah tahun 1946 ini, merupakan ahli fikih ternama di Indonesia.
Beliau sering diundang menjadi pembicara, baik dalam forum nasional maupun
internasional. Selain itu, beberapa tulisannya juga sering dimuat di media
cetak. Beliau pernah menjadi anggota Komisi Fatwa MUI serta masih aktif
mengajar di beberapa Universitas, di
antaranya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta,
Pascasarjana Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta, Dosen Pascasarjana UIN
Jakarta, Universitas Islam Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Selain
aktif di MUI, beliau juga penggerak sejumlah LSM wanita yang mengantarkannya
mendapat penghargaan sebagai tokoh peningkatan peranan wanita. Sepak terjang
beliau tak hanya di dunia pendidikan dan politik, tapi juga merambah pada dunia
perbankan. Beliau menjabat sebagai Dewan Pengawas Syariah di Bank Niaga Syariah
dan Ketua Pengawas Syariah di Asuransi Takaful Great Eastern. Informasi sebagai
dilansir iiq.ac.id.
2. Prof. Dr. Nabilah Lubis
Wanita asli Mesir ini, memutuskan
menetap di negara Indonesia setelah dipersunting oleh Mahasiswa Indonesia yang
kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Hal ini sebagaimana tertulis dalam buku otobiografinya
yang berjudul Roman Putri Kairo dan Mozaik Pengabdian di Negeri Khatulistiwa. Beliau
merupakan seorang Ahli Filologi Indonesia yang merupakan Guru Besar Ilmu
Filologi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, beliau juga pernah
menjabat sebagai ketua Majelis Ilmuwan Muslimat se-Dunia cabang Indonesia
(2013). Beliau aktif dalam dunia menulis, tulisannya banyak yang dimuat di
beberapa media massa baik nasional maupun internasional. Beliau juga menjabat
sebagai pemimpin umum majalah berbahasa Arab Alo Indonesia.
3. Prof. Dr. Aisjah Girindra
Wanita kelahiran Bukittinggi
tahun 1935 ini, adalah seorang Guru Besar Biokimia IPB dan pakar makanan halal
Indonesia, Doktor wanita pertama di Pogram Pascasarjana IPB ini, pernah menjadi
Direktur Lembaga Penelitian dan Pengkajian Obat-obatan, Kosmetik dan Makanan
(LPPOM) Majelis Ulama Indonesia dan Presiden Dewan Halal Dunia.
4. Prof. Dr. Zakiyah Daradjat
Wanita kelahiran Minang 1926
ini, Ahli Psikologi Islam jebolan Ain
Shams University Cairo, Mesir. Termasuk kalangan santri pertama yang
mendapatkan gelar sarjana di luar negeri dalam bidang psikologi. Psikolog yang
melihat doa sebagai salah satu metode terapi mental ini, merupakan orang yang
pertama kali merintis dan memperkenalkan psikologi agama di lingkungan
Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Beliau aktif dalam mengampanyekan
Psikologi Islam melalui berbagai media, buku, artikel, makalah, diskusi, radio,
televisi, serta mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Selain itu,
karya-karyanya menjadi bacaan wajib di perguruan tinggi, terutama mengenai
Pendidikan Agama dan Psikologi Agama. Sayangnya, beliau telah kembali ke
haribaan Tuhan pada tahun 2013 silam.
5. Rahmah El-Yunusiyah
Rahmah El-Yunusiyah merupakan
sosok pembaharu pada abad ke 19 M. Wanita kelahiran Padang Panjang ini, anak
dari seorang ulama besar di zamannya, Syekh Muhammad Yunus, seorang hakim
sekaligus pemimpin Tarekat Naqsabandiyah al-Khalidiyah serta ahli ilmu falak dan
hisab yang pernah menuntut ilmu di Mekah selama 4 tahun. Berasal dari keluarga
yang kental dengan tradisi akademis, ia tumbuh besar dengan pendidikan yang
layak tak seperti perempuan umumnya pada zaman itu. Ia menilai bahwa kaum
perempuan juga perlu mendapatkan pendidikan, karena itu, ia mendirikan Sekolah
Perempuan. Jadi bisa dibilang, dia merupakan penggagas Sekolah Perempuan
pertama. Ia resmi mendirikan lembaga pendidikan untuk perempuan pada 1 November
1923, sekolah itu diberi nama Madrasah Diniyah Lil Banat. Masyarakat banyak
yang tertarik, dan pada masa penjajahan Jepang sekolah ini dipopulerkan dengan
nama “Sekolah Diniyah Puteri”, sedangkan pada masa sekarang dikenal sebagai
“Perguruan Diniyah Puteri”. Informasi ini seperti tertulis dalam Jurnal
Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga, Februari-Juli 2004
Sumber: berbagai sumber
Rabu, 07 Agustus 2019
Muhammadiyah Hidup dari Perbuatan Amalan Nyata, Bukan dari Perdebatan di Medsos
MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Bekerja sebagai ikhtiar yang memiliki dimensi keduniaan dan ke-akhiratan, dalam dimensi keduniaan manusia boleh saja mengharapkan ujrah (upahatau pendapatan)dan didimensi ke-akhiratan manusia bekerja juga yang terpenting adalah dengan mengharap ajrun (pahala).
Ajrun sebagai upah dalam bentuk pahala yang diberikan oleh AllahSWT, memiliki kualifikasi amalan yang dilakukan harus berlandaskan ikhlas. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Senin (5/8) dalam pengajian ba’da dzuhur di Musholla Kantor PP Muhammadiyah jl, Cik Ditiro, No 23, Terban, Yogyakarta.
Kader yang merangkap menjadi karyawan baik di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maupun yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menurut Haedar merupakan sebuah kesatuan dari relasi sosial. Sehingga, kesatuan tersebut memiliki kewajiban untuk saling menguatkan dan menjalin silaturahim. Bentuk silaturahim yang dilakukan bukan hanya pada momen hari raya atau syawalan saja, melainkan setiap keadaan dan setiap waktu yang kondisional.
Meskipun hidup di era informasi teknologi, Haedar berpesan untuk tidak lupa tetap saling silaturahim dalam bentuk kunjungan ke rumah atau membuat janjian di suatu tempat. Bertemunya seorang muslim dengan muslim lainnya merupakan sebuah hadiah, yang didalamnya kedua belah pihak saling salam, berjabat tangan, dan berbagi informasi positif yang didapatkan. Dalam salah satu potongan hadist juga disebutkan silaturahim bisa menjadi memanjangkan ‘umur’.
Haedar mewanti-wanti dalam menghadapi era informasi terlebih media sosial, dimana manusia, termasuk juga kader Muhammadiyah yang memiliki kedekatan intensif dengan media sosial untuk lebih berhati-hati. Terlebih dalam membesarkan dan membangun Muhammadiyah, menurutnya Muhammadiyah hidup dari perbuatan atau amalan nyata, bukan dari perdebatan melalui media masa.
"Anggota, kader, lebih-lebih pimpinan di lingkungan Persyarikatan jangan merasa sudah berbuat hanya dengan sibuk ber-Whatsapp tanpa terlibat langsung dalam menggerakkan memajukan Muhammadiyah," pesan Haedar.
Apalagi manakala di media sosial lebih banyak memproduksi hal-hal yang kontraproduktif dan membuat hati, pikiran, dan sikap kita menjadi kehilangan optimisme serta semangat berikhtiar untuk memajukan dakwah Muhammadiyah.
"Pimpinan dan juga kader Muhammadiyah jangan hanya sibuk berdebat di media sosial, tanpa melakukan aksi konkrit berupa kebermanfaatan yang bisa dirasakan oleh masyarakat atau umat," harap Haedar.
Maka, selain mendapatkan ujrah. Karyawan Muhammadiyah dalam bekerja juga harus berharap kepada ajrun, yaitu lapisan kedua dari ikhtiar yang tidak terlihat di dunia namun menjadi tabungan di Yaumul Akhir nanti.
Haedar juga berpesan kepada karyawan Muhammadiyah untuk juga menghidupkan jiwa kewirausahaan, karena wirausaha juga merupakan etos orang Muhammadiyah. Sehingga karyawan ataupun kader Muhammadiyah mampu berdaya di atas kakinya sendiri, tidak perlu menggantungkan diri kepada orang lain.
“Sehingga semangat memberi dan melakukan kebaikan seperti yang biasa dilakukan oleh para pendahulu Muhammadiyah turut bisa dilakukan oleh warga persyarikatan sekarang ini,” pungkas Haedar.

http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-17260-detail-muhammadiyah-hidup-dari-perbuatan-amalan-nyata-bukan-dari-perdebatan-di-medsos.html?fbclid=IwAR3HNfKCwYZ6kIPrCN644ufToeA_CNwA3C3GqxNGAZubowZiOzgGAWs087o
Selasa, 06 Agustus 2019
20 Mutiara Hikmah / Nashoih Alm. Mbah Maimoen Zubair
-1. Wong Yahudi iku biyen gelem mulang angger dibayar , tapi akehe kiyai saiki ngalor ngidul karo rokoan ora gelem mulang nak ora dibayar, gelem mulang angger dibayar. (Orang Yahudi dulu mau mengajar kalau dikasih uang, tetapi kebanyakan kyai sekarang mondar-mandir sambil rokoan tidak mau mengajar kalau tidak dikasih uang).
2. Wong neng dunyo iku ono bungahe lan ono susahe, kabeh iku supoyo biso dadek’ake parek marang Allah, Tapi nak neng akhirat nak susah susah tok rupane nang neroko, tapi nak seneng yo seneng tok rupane neng suargo (Orang di dunia itu ada yang senang dan ada yang susah. Semua itu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah, tetapi kalau di akhirat susah terus yaitu ketika di Neraka, dan senang terus ketika di Surga).
3. Kanggone wong islam nak susah yo disabari nak bungah disyukuri. (Untuk orang Islam ketika susah disabari dan ketika senang disyukuri).
4. Apik-apik’e dunyo iku nalikone pisah antarane apik lan olo. Sakwali’e, elek-elek’e dunyo iku nalikone campur antarane apik lan olo. Mulane apik iku kanggone wong islam, lan elek iku kanggone wong kafir. (Bagusnya dunia itu ketika pisah antara bagus dan jelek, sebaliknya jeleknya dunia itu ketika campur antara bagus dan jelek).
5. Apik-apik’e wong iku taqwo marang Allah yoiku ora ngelakoni doso mboh iku doso cilik utowo doso gede kabeh iku di tinggal. (Bagus-bagusnya orang itu ialah orang yang bertaqwa, yaitu tidak mau melakukan dosa, baik dosa kecil maupun besar semuanya ditinggal).
6. Zaman akhir iku senengane podo ngatur pangeran. yaiku podo akeh-akehan istighozahan koyo-koyo demo marang pangeran. (Zaman akhir itu banyak orang yang mendemo tuhan yaitu dengan cara Istighozah, seolah-olah seperti mengatur tuhan).
7.Ngandikone bapakku :حََِفَط َشُيئا وغا بت عنه ا شياءakehe wong iku ngertine pekoro siji liyane ora ngerti koyo dene wong haji ngertine mong bab kaji, pembangunan masjid yo iku tok, ora ngerti bahwa sodakoh iku yo ono wong miskin mbarang. (Ayah saya pernah mengatakan bahwa banyak orang yang tahu perkara satu tetapi yang lain tidak diketahui, seperti halnya orang tahunya hanya bab haji saja, atau shodaqoh pembangunan masjid saja, tetapi tidak tau bahwa sodaqoh itu juga ada yang buat fakir miskin).
8.Nak wong ahli toriqoh utowo ahli tasawuf iku ora ono bedone doso iku gege utowo cilik podo bae kabeh didohi.(Kalau orang Ahli Toriqoh atau Tsawuf tidak ada bedanya dosa itu baik besar atau kecil semuanya ditinggalkan).
9.Wong iku seng apik ora kena nyepeleake doso senajan cilik, lan ora keno anggak karo amal senajan akeh amale.(Orang itu yang bagus ialah tidak menyepelekan dosa meskipun kecil dan tidak sombong ketika punya amal meskipun banyak).
10. Dunyo iku dadi tepo tulodone neng akhiratمرءاةفي الاخرة الدنيا (Dunia itu menjadi contoh atau cermin diakhirat).
11. Ngalamate Qiamat iku angger wong tani iku wes aras-arasen tani, mergo untunge iku sitik. (Termasuk tanda Qiyamat itu orang sudah malas untuk bertani, karena untungnya sedikit).
12. Gusti Allah iku gawe opo bae mergo sebab awae dewe 'kembang seberat mekar dewe'. (Allah itu membuat apa saja sebab diri sendiri 'Bunga berat berkembang sendiri').
13. Nabi bersabda : انكم ستمصرون امصا را seng artine kuwe kabeh ko bakal gawe kota dewe-dewe. (Wong sugih iku ko bakal gawe kota dewe-dewe, wong mlarat iku podo gawe deso dewe-dewe artinya “Bahwasannya nabi telah bersabda yang artinya :Orang kaya itu akan membuat kota sendiri-sendiri, sedangkan orang Miskin nanti akan membuat desa sendiri-sendiri).
14. Endi-endi barang iku bakale ilang. Wong mangan daging eyo bakale ilang, tapi ono seng ora ilang, iyoiku barang seng ora ketok koyo dene ruh, kang ora sebab opo-opo, langsung pepareng soko Allah ora melalui proses.(Semua barang itu akan hilang, orang makan daging juga akan hilang dagingnya, tetapi ada yang tidak hilang yaitu Ruh, ini pemberian lansung dari Allah tanpa proses).
15. Wali iku nak katok iku wes ora disiplin wali, masalahe wali Iku ora keno kanggo conto, asale tingkahe iku selalu nulayani adat. (Yang namanya Wali kalau kelihatan itu sudah tidak disiplin Wali, karena Wali itu tidak boleh dicontah, karena tingkahnya selalu berselisih dengan kebiasaan).
16. Alamate wali iku wes ora biso guneman karo menungso, masalahe wong nak guneman karo menungso iku yo ora biso dzikir karo Allah artinya “Tanda wali itu sudah tidak bisa berkomunikasi dengan manusia karena kalau berdiskusi dengan manusia biasanya tidak bisa dzikir dengan Allah”.
17. Barang yen positif iku ora katon , bisone katon iku angger ono negatif, koyo kuwe biso reti padang yen wes weruh peteng, wong biso ngerti Allah angger wes ngerti liyane Allah. (Sesuatu yang bagus itu tidak kelihatan, dan akan kelihatan ketika ada yang tidak bagus, contoh kamu tau terang kalau sudah gelap, dan kamu tau Allah ketika kamu tau selain Allah).
18. Wong iku yen solat bengi kok ajak-ajak iku berati ora pati ikhlas, masalahe mbengi iku wayah turu, lah wong solat iku kudune soko karepe dewe. (Orang ketika salat malam mengajak-ajak berati itu menandakan tidak begitu ikhlas, karena waktu malam itu waktu istirahat, kalau mau salat memang dari keinginan diri sendiri).
19. Sepiro senenge tangi soko kubur, iku sepiro enakke neng alam akhirat. (Seberapa senangnya orang bangun dari kubur, seberapa senangnya diakhirat).
20. Wong naliko metu soko wetenge simbok iku kudu susah, tapi yen wong metu soko dunyo alias mati iku kudu roso seneng , iki alamate wong seng bakal urip seneng.(Orang ketika keluar dari kandungan sang Ibu harus susah, sedangkan keluar dari dunia yaitu meninggal harus senang ini alamatnya orarang akan senang).
Sumber: ppalanwar.com
Residu Politik Umat
Oleh Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Seluruh rangkaian Pemilu 2019 sudah selesai. Presiden dan wakil presiden sudah ditetapkan dan tinggal menunggu pelantikan. Masih ada sengketa pemilihan anggota legislatif yang harus diselesaikan di Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua masalah terkait kursi legislatif di semua tingkatan sudah tinggal ketuk palu.
Sekarang ini para elite politik mulai sibuk berbagi “fai” dan “ganimah” serta asabah hasil pemilu. Banyak yang kasak-kusuk untuk duduk di kursi menteri, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Ada yang terbuka meminta jatah menteri, ada pula yang basa-basi. Sayup-sayup terdengar ada deal jabatan ketua DPR, DPD, dan MPR.
Residu politik
Di level elite, pemilu sudah benar-benar selesai. Semuanya sepertinya sudah clear and clean. Namun, di akar rumput, kalangan alit, sisa-sisa pemilu masih belum sepenuhnya sirna. Sebagian masyarakat masih ada yang belum atau tidak mau move on. Mereka menolak hasil pemilu, khususnya pemilihan presiden.
Meskipun keputusan MK sudah final, kelompok ini menilai sidang MK hanya sandiwara. MK sebagaimana KPU dan Bawaslu dianggap sebagai bagian dari pilpres yang dilaksanakan dengan penuh kecurangan masif, terstruktur, dan sistematis.
Secara de jure, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sudah resmi menjadi presiden. Namun, secara de facto, sebagian die hardpasangan Prabowo-Sandi masih belum bisa mengakui. Sebagian sudah tegas memilih menjadi oposisi. Sebagian lainnya masih bermimpi ada keajaiban, pemilu dibatalkan dan dilakukan pemilihan ulang.
Kelompok kedua mengalami kekecewaan ganda. Pertama, kecewa dengan kekalahan Prabowo-Sandi. Selain itu, mereka juga kecewa dengan Prabowo yang dianggap mengambil langkah sendiri bertemu Jokowi dan Megawati. Sebagian mereka bahkan berpendapat Prabowo telah berkhianat. Jumlah mereka tidak seberapa.
Namun, perilaku yang outspoken banyak menarik dan mendapat peliputan media. Di media sosial masih beredar disinformasi dan ujaran kebencian kepada Jokowi. Beredar khurafat yang mengaitkan bencana alam--khususnya gempa bumi--dengan kecurangan pilpres.
Dalam politik, menolak hasil pemilu merupakan hal yang biasa. Oposisi konstruktif terhadap pemerintah bukanlah hal yang tabu. Namun, penolakan itu menjadi tidak lazim dan bermasalah karena mengatasnamakan ulama dan umat. Dalam hubungannya dengan gerakan Islam dan relasi antara Islam dan negara, sikap dan perilaku kelompok ini kontraproduktif dan memiliki akibat negatif dalam kehidupan umat.
Pertama, potensi memecah belah umat Islam. Mereka sengaja menciptakan firkah-firkah dalam tubuh umat dengan memelihara dan memperluas polarisasi politik Pemilu 2019. Psikologi pemenang dan pecundang berkembang. Euforia mereka yang menang membuat pecundang meradang. Beberapa masalah yang selama ini idle dibuka kembali. Realitas ini seakan menjadi babak baru, perpanjangan waktu, persaingan politik pascapemilu.
Kedua, perlawanan yang keras terhadap pemerintah menimbulkan persepsi umat Islam sebagai kelompok anti-NKRI dan Pancasila. Bagi sebagian kalangan, pernyataan NKRI bersyariah yang disuarakan FPI merupakan bukti nyata ancaman terhadap kedaulatan negara. Penilaian semakin kuat ketika secara politik, kelompok-kelompok yang dinilai radikal berada di barisan Prabowo-Sandi. Umat masih terbelah dan seakan tidak peduli dengan imbauan Presiden Jokowi bahwa sudah tidak ada lagi 01 dan 02 tetapi 03, yaitu Persatuan Indonesia.
Ketiga, residu politik juga bisa menyeret umat dalam konfrontasi politik-kekuasaan. Energi umat terkuras dalam berbagai aktivisme politik jalanan. Kehirauan umat terdapat politik begitu tinggi. Instrumentalisasi agama sebagai identitas dan gerakan politik tampaknya akan terus terjadi. Jika pemerintah tidak tepat melangkah dan kinerja pemerintahan tidak lebih baik dari sebelumnya, lima tahun mendatang akan menjadi episode yang penuh ketegangan yang melelahkan.
Walaupun kecil, eksistensi dan aksi kelompok ini bisa menjadi batu kerikil yang menghambat perjalanan, bahkan bisa menjadi batu ginjal yang merusak kesehatan. Residu politik masih belum sepenuhnya sirna dan berpotensi menjadi faktor liabilitas umat. Ulama seakan terbelah dalam dua institusi; Ijtima Ulama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Perlahan namun pasti, beberapa aksi ad hocyang semula bersifat sporadis mulai menjadi lembaga tersendiri.
Salah satunya adalah kelompok 212. Aksi demonstrasi Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) MUI pada 4 November (411) dan 2 Desember (212) berkembang menjadi organisasi. Selain Persatuan Alumni (PA) di beberapa daerah juga berdiri waralaba 212. Bersama-sama dengan beberapa gerakan lainnya, PA 212 dan Ijtima Ulama yang lahir dari rahim Pilkada Jakarta dan Pilpres 2019 bertumbuh menjadi kelompok emergingIslam yang menjadi “penyeimbang” established Islam.
Agenda bersama
Pluralitas politik dan gerakan adalah hal yang tidak terhindarkan. Namun, pluralitas yang terpolarisasi dalam kutub-kutub politik aliran dan libido kekuasaan tidak boleh diabaikan. Tidak hanya umat yang terbelah, tetapi bangsa juga bisa pecah.
Sampai saat ini Indonesia mampu mengatasi berbagai ketegangan dan gelombang politik dengan baik. Selalu ada solusi kultural sehingga gelombang pasang demokrasi tidak menjelma badai. Indonesia bukanlah Mesir yang pecah setelah pesta demokrasi. Indonesia--terbukti--selamat dari masalah “balkanisasi”. Namun, jika umat Islam tidak solid, ancaman disintegrasi bukanlah ilusi.
Umat Islam perlu mulai berbicara dari hati ke hati membahas agenda bersama. Pertama, para pemimpin umat sudah harus memulai konsolidasi dan akselerasi gerakan ekonomi. Bidang ini sangat mendesak untuk diselesaikan.
Kemiskinan yang disebabkan oleh proses pemiskinan konstitusional, intelektual, dan mental menuntut penyelesaian bersama dengan sepenuh jiwa. Alih-alih diselesaikan, masalah kemiskinan sering kali justru dieksploitasi untuk komoditas politik dan instrumen kekuasaan. Ruang publik penuh retorika dan wacana tetapi sepi aksi nyata.
Kedua, masalah sumber daya manusia. Daya saing dan daya sanding umat begitu lemah. Ada masalah serius dalam tubuh umat, yaitu bidang pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola umat Islam sangat melimpah, tetapi kualitasnya seperti limbah. Perlu revolusi manajerial dan kerja sama lintas ormas. Sekarang waktunya membangun korporasi dan kolaborasi.
Ketiga, memperkuat gerakan masyarakat madani. Demokrasi liberal telah mengisap energi umat ke ranah politik praktis. Sumber dana dan sumber daya terkuras ke dalam pusaran politik partisan, mulai dari pemilihan bupati/wali kota, gubernur, presiden, dan legislatif. Perlu ada pembagian peran dan posisi agar tidak terjadi kerancuan fungsi.
Politisasi agama sudah sangat jauh sehingga umat seakan tidak lagi memiliki “ayah”, orang tua yang menjadi tempat bertanya. Umat tidak memiliki “rumah” karena masjid sudah tidak bisa lagi menjadi rumah bersama akibat kooptasi dai yang ekslusif dan merasa benar sendiri.
Keempat, perlu gerakan politik kebangsaan untuk memperbaiki sistem politik, terutama sistem pemilu. Sistem proporsional terbuka yang berlaku dalam dua kali pemilu (2014 dan 2019) lebih banyak mendatangkan mudarat dibandingkan manfaat bagi umat dan bangsa. Sistem proporsional terbuka tidak hanya merusak moral, tetapi juga mematikan sistem meritokrasi dan bertentangan dengan spirit dan nilai demokrasi.
Selain itu, umat juga perlu bersungguh-sungguh menyiapkan kader politik yang tangguh. Para pemimpin umat perlu lebih intensif melakukan komunikasi politik dengan para pemimpin partai politik sebagai langkah awal delegasi dan distribusi kader dalam berbagai partai. Strategi konsentrasi politik umat dalam partai politik tertentu perlu dievaluasi.
Umat Islam adalah komunitas terbesar bangsa Indonesia. Perilaku dan mutu umat adalah salah satu penentu utama kemajuan bangsa. Pemilu sudah usai saat semua pertikaian lerai. Residu politik sudah harus dilebur agar umat tidak hancur dan Indonesia berkembang menjadi negeri yang maju, adil, dan makmur.
https://m-republika-co-id.cdn.ampproject.org/v/s/m.republika.co.id/amp/pvqhnb440?amp_js_v=a2&_gsa=1&usqp=mq331AQA#referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=Dari%20%251%24s&share=https%3A%2F%2Frepublika.co.id%2Fberita%2Fpvqhnb440%2Fresidu-politik-umat
Langganan:
Komentar (Atom)
Sengketa Pilpres 2024 di Ajukan di Mahkamah Konstitusi
Foto Hanya Pemanis 😁 With Prof. Dr. Arief Hidayat , SH, M.S. salah satu Hakim Mahkamah Konstitusi RI Dalil permohonan kecurangan pilpres ...
-
Penulis ingin sampaikan kepada Dunia sebelum masuk materi, yakni jalan Kesenangan, kebahagiaan, kesuksesan, kejayaa...
-
mari kita tingkatin lagi rasa syukur kita dengan menghidupkan hati kita..hati kita.. kita hidupin. kita asah terus hati kita utnuk senantia...
-
bagaimana tidak kalau kita perhatikan nyanyian berikut "jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini" kutipan n...









