Tapi Ibuku memanggilku.
Duka mendalam melanda bencana Jaya Pura, Jawa Timur dan Yogyakarta baru -baru ini.
ditengah belahan penjuru bumi pertiwi dijejali kesibukan dengan berebut kuasa
Dunia maya penuh sesak dengan tagar tentang perasaan benar dan salah saling tuding menuding
Merobek akal sehat dan membutakan rasa hingga frasa yang tak lagi tegar mendengarnya,
Perebutan ruang, mencari peluang dengan menebar uang dan janji-janji
Niat ikhlas bertabur debu dalam bayangan ria menyelimutinya
Kewajaran menutupi rasa yang paling mendalam dari kasih dan sayang
Padahal yang dibutuhkan adalah kejujuran setiap ikhtiarnya
Mungkinkah mereka lupa Bapak dan Nenek moyang kita yang berjuang penuh ketulusan dan IQ yang tinggi,
Tak ada tanya tentang imbalan yang mesti diperoleh oleh tetesan darah dan air mata semua dengan kejujuran dan keikhlasan kuncinya.
Di kepala hanya ada tentang senyum dan salam diwaktu malam dan siang
Dan menebar benih agar esok dapat aku petik buah dari setiap usaha yang ku tanam
Haruskah bencana itu yang menyatukan kita?
tanah air ini sudah terlalu lelah menjaganya meski tak pernah berhenti menyatukan,
Tak ada tanya tentang suku, bangsa, ras dan agama untuk menyatukan kita
Karena kemanusiaan dan cinta tanah air yang memberi ruh untuk menyatukan
Haruskah dengan bencana itu yang menyatukan kita?
Tidak, sekali tidak! hanya keadilan sosiallah yang menyatukan kita
Hanya rasa kemanusiaanlah yang mampu menghadirkan kemajemukan menjadi satu
Dan hanya rasa cintalah yang mampu memberi kasih sayang kepada ruang dan waktu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar