Rabu, 25 Desember 2019

Negeriku Oleh: KH A Mustofa Bisri




mana ada negeri sesubur negeriku?

sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung

tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung

perabot-perabot orang kaya didunia

dan burung-burung indah piaraan mereka

berasal dari hutanku

ikan-ikan pilihan yang mereka santap

bermula dari lautku

emas dan perak perhiasan mereka

digali dari tambangku

air bersih yang mereka minum

bersumber dari keringatku

mana ada negeri sekaya negeriku?

majikan-majikan bangsaku

memiliki buruh-buruh mancanegara

brankas-brankas ternama di mana-mana

menyimpan harta-hartaku

negeriku menumbuhkan konglomerat

dan mengikis habis kaum melarat

rata-rata pemimpin negeriku

dan handai taulannya

terkaya di dunia

mana ada negeri semakmur negeriku

penganggur-penganggur diberi perumahan

gaji dan pensiun setiap bulan

rakyat-rakyat kecil menyumbang

negara tanpa imbalan

rampok-rampok dibri rekomendasi

dengan kop sakti instansi

maling-maling diberi konsesi

tikus dan kucing

dengan asyik berkolusi

Puisi Akhir Tahun

Tahun-tahun berlalu memang
Manusia silih berganti datang dan pergi
Namun perjuangan membangun hidup tetap sama
Yang dikejar manusia tak berbeda
Yang mendatangkan rasa senang dan sedih berputar pada lingkaran itu itu saja
Ada yang abadi pada hidup kita
Meskipun ada yang fana dan sementara juga
Banyak yang mengejar dengan seluruh waktu
Mengorbankan umur dan tenaga
Pada sesuatu yang akhirnya ditinggalkanya
Ada yang memantapkan jejak langkahnya
Untuk yang abadi dan bertahan selamanya
Namun jumlahnya tak seberapa
Dari yang tak seberapa itu
Salah satunya berkumpul disini
Pada ruang gedungnya yang sederhana
INSISTS Jakarta dengan commited to the truth sebagai semboyannya! [Arif Setya Basuki]

Negeri Haha Hihi



Oleh: KH A Mustofa Bisri

Bukan karena banyaknya grup lawak, 
maka negriku selalu kocak
Justru grup – grup lawak hanya mengganggu 
dan banyak yang bikin muak
Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut

Banyak yang terus pamer kebodohan 
dengan keangkuhan yang menggelikan
Banyak yang terur pamer keberanian 
dengan kebodohan yang mengharukan
Banyak yang terus pamer kekerdilan 
dengan teriakan yang memilukan
Banyak yang terus pamer kepengecutan 
dengan lagak yang memuakkan. Ha ha ...

Penegak keadilan jalannya miring 
Penuntut keadilan kepalanya pusing
Hakim main mata dengan maling
Wakil rakyat baunya pesing. Hi hi ...

Kalian jual janji – janji 
untuk menebus kepentingan sendiri
Kalian hafal pepatah-petitih 
untuk mengelabui mereka yang tertindih
Pepatah petitih, ha ha ...

Anjing menggonggong kafilah berlalu, 
Sambil menggonggong kalian terus berlalu 

Ha ha, hi hi ...
Ada udang dibalik batu, 
Otaknya udang kepalanya batu 
Ha ha, hi hi
Sekali dayung dua pulau terlampaui 
Sekali untung dua pulau terbeli 
Ha ha, hi hi
Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
kalian mati meninggalkan hutang 
Ha ha, hi hi
Hujan emas dinegeri orang, hujan batu dinegri sendiri,
Lebih baik yuk hujan – hujanan caci maki.
Ha ha, hi hi

Rabu, 27 November 2019

Jejak Literasiku

1. Tabloid Cermin, Teologi anti Korupsi, 10 April 2019
2. Tabloid Cermin, momentum memunculkan kembali kesadaran Tekgnokratis Muhammadiyah, 30 November 2018
3. pwmjateng.com, Memaknai Usia Kemerdekaan 74 Tahun Indonesia. 15 Mei 2019
4.pwmjateng, Islam politik diantara tantangan dan harapan, 21 Februari 2019
5.pwmjateng, Ekonomi Kerakyatan, 7 Desember 2018
6. Pwmjateng, Partisipasi politik demokrasi di indonesia, 23 Agustus 2018
7.pwmjateng, kemerdekaan sesungguhnya bagi Difabel, 18 Agustus 2018
8. Suara muhammdiyah, Milad IMM ke 55, 15 Maret 2019
9. Portal IAIN Surakarta, Sejatinya Indonesia Merdeka, 2 Agustus 2019
9. Portal IAIN Surakarta, Jati diri bangsa Indonesia, 21 Januari 2019
10 .portal IAIN surakarta, Masyarakat Millenial dan masyarakat Industri, 21 April 2018
11. Portal IAIN surakarta, Common anemy is corruption, 14 Februari 2018
12. Portal IAIN surakarta, Demokrasi kita Akan Matang, 13 Desember 2017
13. Portal IAIN surakarta, Masa depan Hukum di Indonesia, 10 November 2017
14. Darwisfoundation.com, Negeri keadaban, 8 September 2018
15. Darwisfoundation.com, Puisi Melawan Korupsi,
16. Darwisfoundation.com, islam pembebasan kaum tertindas, 6 Juli 2018
17. Buahpeer.com, Sumpah Pemuda ke 89 harus jadi Api kebangkitan kader Muhammadiyah dalam kesadaran berbangsa dan Bernegara, 11 Oktober 2017
18. Buahpeer.com, masyarakat madani, 16 September 2017

Minggu, 17 November 2019

perjuangan sepanjang zaman

tidak ada kata lelah membina umat

dengan segenap kekurangan dan kelebihan yang kita miliki

koencinya

harus terus berbuat dan berbuat

jangan pandang bulu

jangan pandang bulu

jangan khawatir

jangan ragu apalagi bimbang untuk terus

maju

maju

dan melakukan aksi aksi pencerahan

dan gerakan moral menuju kemajuan peradaban yang tinggi

Selasa, 12 November 2019

Kepimpinan

konsistensi sebuah pemimpin tentu sangat di elu-elukan semua manusia, ketauladanannya dan seterusnya

Selasa, 24 September 2019

Kegamangan Muncul kembali, Dzikirlah

Mulai merasakan ke Galauan karena tidak berangkat-berangkat Magister, entah kenapa, atau karena diriku terlena tidak memiliki management waktu,?
Atau karena apa?

Ingin selesaikan Magister Tahun 2021
setelah itu Lanjut Doctoral di Luar negeri dengan Istri dan anak keturunan,
Bisa memberangkatkan keluarga besar haji dan umroh,

Bisa manfaat mendirikan yayasan yatim piatu, gelandangan, tuna wisma
Mendirikan pesantren Seribu di Dunia eh di indonesia

Senin, 23 September 2019

Silahkan kerjakan Semaumu

Bila mana memang malu telah tiada

Bila ketidak pahaman memang merajainya

Bila mana tidak bertanggung jawab sepenuhnya

Bila mana kita alpa diri

Bila mana kita enggan

Sosialisasi

Dan bersaksilah atas kebersamaan
Dan kemandirian

Sabtu, 21 September 2019

Carut marutnya negeriku

DPR Kerja keras

Entah apa yang mereka tuju

Entah apa yang mereka fikirkan

Berburu srigala di dalam selimut

Sungguh tak paham

Dengan ulahmu yang semakin menjadi siluman dan setan

Tak ada untungnya memilihmu lalu kau pasung kepala rakyat,

Entahlah
Aku pasrahkan semua pada sang penguasa sejati.

Wassalam

Rabu, 18 September 2019

Ibu Kota Baru

Entah kataku

Terserahmu wahai puan dan tuan

Aku tak perdulikan lagi ulahmu yang tak pernah

dengarkan rakyatmu

Entahlah kataku dungukah kalian

Atau hanya pura-pura tidak mendengar

Tapi ya sudahlah semua karena kehendakmu

Dan keinginan politismu

Lakukan segera

Kalau bisa segerakan, malam ini juga.

Agar kemajuan segera nampak didepan mata.
Merdeka indonesia

Selasa, 17 September 2019

Para Pendahulu, I'maluu Fauqo Maa Amilu, (Buatlah Lebih dari pendahulu-pendahulu)

Alumni Pondok Modern Gontor Yang Paling Berpengaruh Di Indonesia
Idham Chalid, Dr. (Mantan Wakil Perdana Menteri RI, Pahlawan Nasional)
Muhammad Maftuh Basyuni, Dr. (Mantan Menteri Agama RIkj
Hidayat Nur Wahid, Dr. (Wakil Ketua MPR RI & Mantan Ketua MPR RI)
Hasyim Muzadi, Dr. K.H. (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Mantan Ketua Umum PBNU)
Lukman Hakim (Menteri Agama era Jokowi JK)
Nurcholis Madjid, Prof. (Cendekiawan Muslim)
Din Syamsuddin, Prof. (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan MUI)
Adnan Pandu Praja (Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi)
Abdurrahman Mohammad Fachir, Dr. (Wakil Menteri Luar Negeri RI)
Abdussalam Panji Gumilang (Pimpinan Pesantren Al-Zaytun Indramayu)
Bachtiar Nasir, Ust. (Ketua Alumni Saudi Arabia se-Indonesia)
Abu Bakar Baasyir, Ust. (Pimpinan Pondok Pesantren Ngruki Solo)
Achmad Nuril Mahyudin (Aktivis Sosial, Peraih Love & Care Award 2014)
Emha Ainun Nadjib (Budayawan)
Aflatun Muchtar, Prof. (Rektor UIN Raden Fatah Palembang)
Ahmad Cholil Ridwan, K.H. (Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiyyah)
Ahmad Fauzi Tidjani, Dr. (Rektor IDIA Prenduan Madura)
Ahmad Fuadi (Jurnalis, Novelis, Peraih Education UK Alumni Award 2016)
Ahmad Khairuddin, Prof. (Rektor Universitas Muhammadiyah Banjarmasin)
Ahmad Luthfi Fathullah, Dr. (Direktur Kajian Hadis)
Ahmad Satori Ismail, Prof. (Ketua Ikatan Dai Indonesia)
Akbar Zainudin (Motivator & Trainer “Man Jadda Wajada”)
Ali Mufrodi, Prof. (Wakil Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya)
Amal Fathullah Zarkasyi, Prof. (Rektor Universitas Darussalam Gontor)
Amsal Bachtiar, Prof. (Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam)
Andri Sofyansyah (Sutradara, Film Dokumenter Terbaik FFI 2013)
Anwar Sadeli Karim, K.H. (Ketua Umum Mathlaul Anwar)
Armanu Thoyib, Prof. (Ketua Asosiasi Ilmuwan Manajemen Indonesia)
Asep Sulaiman Subanda (Peraih Asia Pasific MO Entrepreneur 2008)
Aunur Rohim Faqih, Dr. (Dekan FH UII Yogyakarta)
Azhar Arsyad, Prof. (Mantan Rektor UIN Alauddin Makassar)
Badri Yatim, Prof. (Mantan Dekan Fakultas Adab UIN Jakarta)
Damanhuri Zuhri (Jurnalis & wartawan senior Republika)
Dedi Djubaedi, Prof. (Mantan Direktur Madrasah Kemenag)
Didin Sirojuddin AR (Kaligrafer Internasional, Pesantren Kaligrafi Al-Quran)
Edyson Saifullah, Dr. (Dekan Fakultas Ekonomi UIN Palembang)
Eka Putra Wirman, Dr. (Rektor IAIN Imam Bonjol Padang)
Gilang Hardian (Peraih Asia’s Student Entrepreneur Award 2015)
Habib Chirzin, (Presiden Forum for Peace, Human Rights & Development)
Hafidz Taftazani (Ketua Asosiasi Penyelenggara Haji Khusus se-Indonesia)
Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. (Ketua Pimpinan Majelis MIUMI)
Hasanain Juaini, Tgh. (Penerima Ramon Magsaysay Award)
Hasbi Hasan, Dr. (Direktur PA Peradilan Agama Mahkamah Agung)
Nurol Aen, Prof. (Mantan Ketua Ikatan Sarjana NU) Jawa Barat
Ibrahim Thoyyib, KH. (Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar)
Idris Abdul Shomad, Dr. (Wali Kota Depok Periode 2016–2020)
Ika Yunia Fauzia, Dr. (Motivator dan Pakar Ekonomi Islam)
Ikhwanul Kiram Mashuri (Mantan Pemimpin Redaksi Koran Republika)
Iskandar Zulkarnaen (Manajer Kompasiana – Kompas Grup)
Juhaya S. Praja, Prof. (Mantan Rektor Institut Agama Islam Suryalaya)
Kalend Osen (Pendiri “Kampung Inggris” Pare Kediri)
Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI)
Herman Hidayat, Prof. (Pakar Lingkungan Ekosistem LIPI)
Husnan Bey Fananie, Dr. (Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan)
M. Amin Abdullah, Prof. (Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
M. Amin Nurdin, Dr. (Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta)
M. Ennis Anwar, Dr. (Ketua Umum Al-Ittihadiyyah)
M. Hawin, Prof. (Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada)
Masrur Masykur (Wakil Bupati Kendal Periode 2016–2020)
Mauludin Anwar (Mantan Direktur Pemberitaan SCTV)
Muchlis M. Hanafi, Dr. (Direktur Lajnah Pentashihan Al-Quran)
Muhammad Akhyar Adnan, Dr. (Wakil Rektor UII Yogyakarta)
Muhammad Muzammil Basyuni (Mantan Duta Besar RI untuk Suriah)
Muharrir Asy’ari (Rektor Universitas Muhammadiyah Aceh)
Muhtarom HM, Prof. (Rektor Universitas Nahdhatul Ulama Jepara)
Mudjahid Danun (Pendiri Persatuan Pelajar Muslim Eropa)
Munawar Liza Zainal (Mantan Wali Kota Sabang, NAD)
Mushtofa Taufik Abdul Latif, (Duta Besar Indonesia untuk Oman)
Ramly Hutabarat, Prof. (Mantan Direktur Tata Negara Kemenkumham)
Roem Rowi, Prof. (Mantan Ketua MUI Jawa Timur)
Siswanto Masruri, Prof. (Mantan Wakil Rektor UIN Yogyakarta)
Sulaeman Ma’ruf, K.H. (Ketua Forum Pondok Pesantren Banten)
Sumper Mulia Harahap, Dr. (Dekan FSH IAIN Padangsidempuan)
Susiknan Azhari, Prof. (Direktur Museum Astronomi Islam
Syarifah Gustiawati, Dr. (Pakar Ekonomi Islam)
Syahrul Mamma, Dr. Irjen. Pol. (Dirjen Perlindungan Konsumen)
Tajuddin Noor (Mantan Duta Besar RI untuk Sudan)
Wahib Abdul Jawad, (Mantan Duta Besar RI untuk Suriah)
Yudi Latief, Dr. (Direktur Reform Institute)
Yudhi Wahyuni (Mantan Walikota Banjarmasin)
Zuhri M. Syazali (Mantan Bupati Bangka Barat)
Zulkifli Muhadli, Dr. (Mantan Bupati Sumbawa Barat)
Muhammad Hilmy (Pengusaha, Jenang Kudus “Mubarok”)

KPK


mendung memang langit

tapi tak apa

langit tidak sedang ingin menangis

ia ingin tahu sejauh mana  manusia di bumi berikhtiar

jangan lupa

ada harapan yang selalu

ia sodorkan kepada hambanya

sadarkah atau tidak!

tangkap sinyalnya

berjuanglah sekuat tenaga

rasakan

renungi

amalkan

jangan pasrahkan

latihlah untuk peduli

jangan diam seribu bahasa tanpa

usaha

Selasa, 10 September 2019

Pukis Jajanan Tradisional


Pukis adalah sebuah kue khas Republik Nusantara Indonesia semoga belum dibakukan oleh negara lain. Kue ini dibuat dari adonan telur, gula pasir (pemanis), tepung terigu, ragi dan santen. Adonan itu kemudian dituangkan ke dalam cetakan setengah bulan serta dipanggang di atas api (bukan oven). Pukis dapat dikatakan sebenarnya adalah modifikasi dari kue wafel, Variasinya bermacam-macam, diberi taburan coklat, keju, warna warni, selai nanas, sukade (manisan buah, biasanya dari pepaya dan dipotong kecil kecil serta berwarna warni) atau kacang.

Kue pukis memiliki bentuk lan warna yang khas. Bagian atasnya berwarna kuning dan bagian bawahnya kecoklatan. Pukis mudah dijumpai di toko-toko kue maupun penjual kaki lima di Indonesia. Dan karena mudah dijumpai kue ini jarang disajikan pada pesta-pesta.

By Abdi Revolusi Chef



Jangan Lupa Disuscribe
Beginilah cara membuat dan memangangnya

https://youtu.be/hzP5YvYk1Lo

Kuburan dan Pelayanan

semua serba dibatasi
karena lahan memanglah terbatas ditengah kota

andaikan ulun diberi kekuatan untuk memberikan wakaf,
ulunpun akan mewakafkan tanah, demi kemaslahatan umat,

semoga kita semua diberi kekuatan
untuk mampu dan dimampukan

semua pasti berkeinginan
semua pasti bertekad
semua pasti mau
semua ingin
semua butuhkan jerih payah


tak apa kuburan sempit
tak apa fasilitas terbatas
ingatlah hamparan bumi Allah sangatlah luas

maka tetap berbuatlah
maka berkhidmatlah
maka berjuanglah
maka berdedikasilah
maka bertaubatlah


by Abdi Revolusi

Senin, 09 September 2019

Olaharaga, Olah batin, Olah Jiwa.

Mensana encorporesano,
Al Aqlussalimu Filjismissalim.
Akal yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat pula

Rabu, 04 September 2019

Kamisan Jadi Agenda Kritik Pemerintah Rutinan




Kritik berarti sayang,
Kritik berarti peduli,
Kritik berarti empati,
Kritik berarti cinta.

 Memori tak boleh lupa.

Terus Gelorakan Ingatan! Pastikan Suaranya nyaring keras dan didengar!
Masa lalu catatan kelam tak boleh alpa  dan murah begitu saja,
Kejadian demi kejadian menyisakan sayap-sayap hati, fikiran.

Tragedi kemanusiaan menjadi menara peringatan,

Tragedi kekejaman menjadi catatan merah
Tak boleh hanya di maafkan lalu dilupakan apalagi di lewatkan begitu saja, tanpa peringatan kenangan mengulas kembali, tanpa tanggung jawab moral menyedihkan.


Tak boleh hanya diam seribu bahasa wahai anak muda.
Bangkit
Ingatkan!
Sadarkan khalayak luas!

Tuntut, advokasi, teriakkan dengan kepalan tangan bila tak di gubris kehendak kalian.

Negeri ini akan luruh bila kita tak akui kesalahan, gampangkan fenomena bernilai peristiwa!
tak akui kekurangan,
Tak akui kemunafikan.
Justru malah menutup nutupi seluruh dosa-dosa sosial
yang bertumpuk-tumpuk hingga gentarkan publik
apakah ini manusia bernama Penyelenggara negara, yang kerdil nyalinya, picisan akal budinya??

Sejarah demi sejarah akan mencatat, dan  justru akan menambah dan menambah catatan kelam negeri ini.

Anak cucu kita akan memperingati ooowh inilah para pendahuluku,

Yang Pahlawan yaaaa pahlawan...
Yang mafia yaaa mafia
Yang maling yaaaa maling..
dan seterusnyaaa
miris...
dan segera akhiri.

Abdi Revolusi
Kamis, 5 September 2019

MTSN 03 Boyolali

Mengesankan, mengharukan, ramai, hiperaktif. Dan seterusnya yang jelas menggembirakan.
Berikut gambar-gambarnya




Senin, 02 September 2019

Obat Rindu

Peresmian Rumah Singgah didepan Adi Soemarmo Airport tidak hanya seremoial belaka melainkan momentum sharing, "tahaddus binni'mah" membicarakan kenikmatan, metode syukur yang paling menggembirakan, nampak banyak asatidz senior dari berbagai perwakilan gontor 1/2/3 dan Gontor putri dan UNIDA nampak Kyai Hassan Abdullah sahal dan rombongan dan jajarannya, beberapa kali saya cium tangan langsung dengan asatidz senior dan bertegur sapa dengan adek-adek kelas yang masih mengabdi.

Obrolan singkat cukup bermakna yakni dengan ust Soeharto yang aslinya dari Cepu, beliau nampak bersahabat ketika saya menyebut Cepu, At Tajdid dan rekanan perjuangan yakni Furqoni dan Zaenal, ooh ya aroftu, Aroftu...

Anta ainal aaan. Ana Fi Aisyiyah Tadz, sedang kasak kusuk lanjut studi S2 didalam dan luar Negeri, bismillah mohon doa restunya tadz..

amieen
amieeen
Mabruuuk akhi sambil menepuk pundak

Beberapa kali saya bertanya dimana sekarang Fathi tadz. Putra antum? Masih di madinah masih satu tahun lagi dya selesai.
Ayyuwah.





Minggu, 01 September 2019

Zakat VS pajak,




Muhammadiyah, membuat Lazismu agar warganya membayar zakat ke Lazismu, yang dimintai pertanggung jawaban adalah Wilayah dan Pusat, maka harus terkoordinasi, kenapa belum maximal?? karena belom semua mendistribusikan zakatnya ke Lazismu,  dan programnya apa-apa saja sudah lengkap. Hanya untuk menyokong tiga pilar Muhammadiyah, kesehatan. pendidikan, ekonomi, dan ditambah Lingkungan Hidup.
missinya memiliki Rumah sakit unggulan, Pendidikan Unggulan, dikelola Lazismu Hanya Hudz Hudz Hudz hanya mengambil- ambil dan di tasarufkan.
bendahara di PDM tidak ada kalau di Banyumas, Bahkan Semua keuangan 3-6 Miliyar di Banyumas dikelola langsung oleh Lazismu, Dainya semua di back Up oleh Lazismu maka istilah SPD surat dinas Dakwah, transpot dan konsumsi ada intensivenya. karena dikelola oleh lembaga terpercaya.


Cepu, Ahad Pagi, 1 September 2019
1 Muharram 1441

Rabu, 28 Agustus 2019

Menjamu Tamu Agung dari Kalsel (Banjarmasin)

Bagiku mereka bukanlah orang kecil melainken orang-orang besar, karena sendari awal mereka tidak memikirkan dirinya sendiri, melainkan sedang proses belajar memikirken kemaslahatan orang banyak, semoga kelak diberi kekuatan untuk tetap istiqomah menegakkan agama islam, dan menyebar luaskan paham ajaran islam berkemajuan dan mencerahkan dibelahan negara manapun.

Laweyan

Selasa, 27 Agustus 2019

Menghadapi Keluarga

Biasanya kita terbiasa berbuat baik kepada orang lain tapi kepada keluarga kita terdekat malah justru ada jarak yang seolah-olah menyekat kita, keakraban kita, kedekatan kita, yaaaaa inilah hidup selalu ada sesuatu yang tidak baik-baik saja, tapi cukup semua dijalani saja apa adanya insyaAllah semua normal dan tidak ada apa-apa yang terpenting saling support dan saling mendoakan dalam kebaikan agar rahmatnya turun dan memberkahi setiap langkah keluarga kita semua dibelahan bumi manapun.

Selamat morning!

Skala Prioritas

Cobalah renungi kembali apakah betul kita butuhkan A, B, C, atau hanya ingin memilikinya tanpa ada azas manfaatnya, sama halnya soal ibu kota indonesia yang hari ini menjadi isu krusial di republik ini,

Perhatikan betul soal mahkota negara jangan gegabah untuk pindahkan sana sini, semoga terbaik buat negeriku, jangan gegabah sekali lagi, kajian kritis dan data yang akurat harus menjadi landasan.

Uji coba terlebih dahulu ke Universitas-universitas kalau memang ia pemerintah berkehendak.

Senin, 26 Agustus 2019

Meresapi kejadian sekitar

Fenomena sosial selalu begitu menghanyutkan Jiwa dan perasaan, selain perihnya keadaan, juga perihnya kondisi, tapi prespektif mana yang hendak kita potret. Syukurkah? Atau malangkah?
tiap individu kita bisa belajar dari kenyataan bahwa hidup ini harus diresapi. Disyukuri dan dinikmati jangan pernah ragu dan bimbang untuk ucapkan syukur "Alhamdulillah" 

Menapak Eksistensi Ilmu

Eksistensi ilmu, dengan Amal, jangan bermimpi ilmu bermanfaat tanpa diamalkan, karena hakikat ilmu pasti dan harus bermanfaat, ilmu adalah cahaya bagi pemakainya, penuntutnya, dan ilmu adalah penerang, penuntun, panglima bagi yang memilikinya, jangan segan-segan berkorban demi ilmu, sekali lagi saya tegaskan bahwa bila kita menghendaki mendapatkan dunia harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki Akhirat juga harus dengan ILMU

Minggu, 25 Agustus 2019

Berdoalah untuk Semesta

Sebagian dari kita tak pedulikan persoalan dunia hari ini, carut marut, ketegangan militer, kemiskinan yang mencapai stadium empat, dan seterusnya hingga persoalan bencana dan kemanusiaan, kita harus selimuti dunia ini dengan doa agar senantiasa, damai, aman, tentram, manusia yang didalam planet bumi hidup tenang dan hanya menghamba dan beribadah padaNya, tak lupakan memakmurkan bumi dan isinya.

selamat morning!

Sabtu, 24 Agustus 2019

Selasa, 20 Agustus 2019

Nasehat Ust Syarief Abadi




Dialog saya, dan Kyai besar Hariz, Pengusaha besar Yusron dengan Guru paling Sepuh dan senior di Gontor 1 yakni Ust Syarief Abadi,
Disela sela sebelum menyampaikan Tausiyah Walimatul urs untuk saudara kami Sunardi dan mempelai. saya dan teman-teman duduk disamping beliau sembari bertanya-tanya kesehatan dan keadaan keluarga beliau termasuk putra/putrinya yang masih bersekolah di dalam dan luar negeri, hingga persoalan dinamika pondok, kiprah para alumni dan seterusnya, ada julukan untuk beliau yakni  "paku bumi gontor" salah satu yang "doanya Mustajab di Gontor ya beliau adalah ust syarief abadi". Guru Ushul fiqh,Fiqh, bidayatul Mujtahid, Hadis dkk, beliau rujukan para asatidz gontor se Indonesia,
beberapa kali saya bertanya lebih tua mana Ust Syarief abadi dengan Prof. Dien Syamsuddin? owwwwwh dia Murid saya, Saya Guru dya masih kelas 3, saya yang mengajar, sembari flasback nostalgia "dahulu terakhir ketemu di Mina pas saya haji ketika SBY masih jadi Menteri saya juga berjumpa, sepulang haji saya laporan ke Kyai Syukri, Nampaknya Hajad Pak SBY mau jadi Presiden di Kabulken! Hehe sembari senyum tertawa lepas ringan

kalau dengan Emha Ainun Najib? owwwwh Cak Nun itu satu angkatan dengan saya, dia itu nakal, mentang-mentang dia sekolah SRnya sudah di Gontor Satelit, punya Pak Carik jadi agak kemlinti. hehehe sambil tertawa ringan,

Owh iya Cita-cita trimurti pendiri Gontor supaya ada Seribu Gontor alhamdulillah perlahan sudah terwujud seindonesia bahkan se Dunia. "teringat ada Grand Mufti dari Mesir Seikhul  Al Azhar " mewasiatkan agar terjadi Betulan 1000 Gontor di Indonesia

banyak obrolan-obrolan ringan teduh, mengalir sembari mengobati rindu dan rasa ingin belajar kembali kepada beliau.
seraya kami sebagai alumni meminta doa agar kelak jadi orang besar bisa punya jutaan manfaat untuk umat.

pesan beliau tapi ingat "selalu akan ada ujian dalam hidup" kalau ujian besar berarti kamu akan jadi orang besar dan seterusnya" lihat kisah-kisah nabi, semua penuh ujian dan tantangan" sembari saya menyebut Musa Musuh bebuyutannya Fir'aun, ust syarief abadi menambahi "Rosulullah" kepalanya diinjek di lempari tai, dan seterusnya Tapi apa yang beliau lakukan?? Fainnahum laya'lamuuuun..."mereka adalah orang tidak tahu dan mengerti" maka beliau memakluminya.

20 Agustus 2019

Selasa, 13 Agustus 2019

Qurban dan Kemiskinan

Renungan tentang kisah nabiIismail dan Ibrahim kembali di sampaikan oleh khatib

sejenak merasuki alam bawah sadar kita

bahwa nafsu, keserakahan, kecongkokan harus di penggal;

adakah manusia tanpa qurban

nampaknya kita tak sadari ritual tahunan ini

umat islam habiskan energi

distribusi memastikan semua memakan daging empuk

bahkan ada yang rela memanagement

itukah islam?

apakah kita sadar?

apa makna qurban sesungguhnya?

hewankah?

ke imanan kah?

atau hanya sekedar takbir- takbir- takbir

fikirkan

domba, onta. sapi, kambing dan sejenisnya

renungkanlah! wahai umatku

umatku

umatku

jangan kau keblinger keimanan

lalu tak paham pesan 

Jumat, 09 Agustus 2019

5 wanita dengan pesona keulamaannya




1.Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo

Beliau merupakan wanita pertama dari Indonesia yang mendapatkan gelar doktor dengan predikat cumlaude, pada konsentrasi Fikih Perbandingan Mazhab dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Perempuan kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah tahun 1946 ini, merupakan ahli fikih ternama di Indonesia. Beliau sering diundang menjadi pembicara, baik dalam forum nasional maupun internasional. Selain itu, beberapa tulisannya juga sering dimuat di media cetak. Beliau pernah menjadi anggota Komisi Fatwa MUI serta masih aktif mengajar di beberapa Universitas,  di antaranya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta, Pascasarjana Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta, Dosen Pascasarjana UIN Jakarta, Universitas Islam Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Selain aktif di MUI, beliau juga penggerak sejumlah LSM wanita yang mengantarkannya mendapat penghargaan sebagai tokoh peningkatan peranan wanita. Sepak terjang beliau tak hanya di dunia pendidikan dan politik, tapi juga merambah pada dunia perbankan. Beliau menjabat sebagai Dewan Pengawas Syariah di Bank Niaga Syariah dan Ketua Pengawas Syariah di Asuransi Takaful Great Eastern. Informasi sebagai dilansir iiq.ac.id.

2. Prof. Dr. Nabilah Lubis

Wanita asli Mesir ini, memutuskan menetap di negara Indonesia setelah dipersunting oleh Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Hal ini sebagaimana tertulis dalam buku otobiografinya yang berjudul Roman Putri Kairo dan Mozaik Pengabdian di Negeri Khatulistiwa. Beliau merupakan seorang Ahli Filologi Indonesia yang merupakan Guru Besar Ilmu Filologi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai ketua Majelis Ilmuwan Muslimat se-Dunia cabang Indonesia (2013). Beliau aktif dalam dunia menulis, tulisannya banyak yang dimuat di beberapa media massa baik nasional maupun internasional. Beliau juga menjabat sebagai pemimpin umum majalah berbahasa Arab Alo Indonesia.

3. Prof. Dr. Aisjah Girindra

Wanita kelahiran Bukittinggi tahun 1935 ini, adalah seorang Guru Besar Biokimia IPB dan pakar makanan halal Indonesia, Doktor wanita pertama di Pogram Pascasarjana IPB ini, pernah menjadi Direktur Lembaga Penelitian dan Pengkajian Obat-obatan, Kosmetik dan Makanan (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia dan Presiden Dewan Halal Dunia.

4. Prof. Dr. Zakiyah Daradjat

Wanita kelahiran Minang 1926 ini,  Ahli Psikologi Islam jebolan Ain Shams University Cairo, Mesir. Termasuk kalangan santri pertama yang mendapatkan gelar sarjana di luar negeri dalam bidang psikologi. Psikolog yang melihat doa sebagai salah satu metode terapi mental ini, merupakan orang yang pertama kali merintis dan memperkenalkan psikologi agama di lingkungan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Beliau aktif dalam mengampanyekan Psikologi Islam melalui berbagai media, buku, artikel, makalah, diskusi, radio, televisi, serta mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Selain itu, karya-karyanya menjadi bacaan wajib di perguruan tinggi, terutama mengenai Pendidikan Agama dan Psikologi Agama. Sayangnya, beliau telah kembali ke haribaan Tuhan pada tahun 2013 silam.

5. Rahmah El-Yunusiyah

Rahmah El-Yunusiyah merupakan sosok pembaharu pada abad ke 19 M. Wanita kelahiran Padang Panjang ini, anak dari seorang ulama besar di zamannya, Syekh Muhammad Yunus, seorang hakim sekaligus pemimpin Tarekat Naqsabandiyah al-Khalidiyah serta ahli ilmu falak dan hisab yang pernah menuntut ilmu di Mekah selama 4 tahun. Berasal dari keluarga yang kental dengan tradisi akademis, ia tumbuh besar dengan pendidikan yang layak tak seperti perempuan umumnya pada zaman itu. Ia menilai bahwa kaum perempuan juga perlu mendapatkan pendidikan, karena itu, ia mendirikan Sekolah Perempuan. Jadi bisa dibilang, dia merupakan penggagas Sekolah Perempuan pertama. Ia resmi mendirikan lembaga pendidikan untuk perempuan pada 1 November 1923, sekolah itu diberi nama Madrasah Diniyah Lil Banat. Masyarakat banyak yang tertarik, dan pada masa penjajahan Jepang sekolah ini dipopulerkan dengan nama “Sekolah Diniyah Puteri”, sedangkan pada masa sekarang dikenal sebagai “Perguruan Diniyah Puteri”. Informasi ini seperti tertulis dalam Jurnal Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga, Februari-Juli 2004

Sumber: berbagai sumber

Rabu, 07 Agustus 2019

Muhammadiyah Hidup dari Perbuatan Amalan Nyata, Bukan dari Perdebatan di Medsos


MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Bekerja sebagai ikhtiar yang memiliki dimensi keduniaan dan ke-akhiratan, dalam dimensi keduniaan manusia boleh saja mengharapkan ujrah (upahatau pendapatan)dan didimensi ke-akhiratan manusia bekerja juga yang terpenting adalah dengan mengharap ajrun (pahala).

Ajrun sebagai upah dalam bentuk pahala yang diberikan oleh AllahSWT, memiliki kualifikasi amalan yang dilakukan harus berlandaskan ikhlas. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Senin (5/8) dalam pengajian ba’da dzuhur di Musholla Kantor PP Muhammadiyah jl, Cik Ditiro, No 23, Terban, Yogyakarta.

Kader yang merangkap menjadi karyawan baik di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maupun yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menurut Haedar merupakan sebuah kesatuan dari relasi sosial. Sehingga, kesatuan tersebut memiliki kewajiban untuk saling menguatkan dan menjalin silaturahim. Bentuk silaturahim yang dilakukan bukan hanya pada momen hari raya atau syawalan saja, melainkan setiap keadaan dan setiap waktu yang kondisional.

Meskipun hidup di era informasi teknologi, Haedar berpesan untuk tidak lupa tetap saling silaturahim dalam bentuk kunjungan ke rumah atau membuat janjian di suatu tempat. Bertemunya seorang muslim dengan muslim lainnya merupakan sebuah hadiah, yang didalamnya kedua belah pihak saling salam, berjabat tangan, dan berbagi informasi positif yang didapatkan. Dalam salah satu potongan hadist juga disebutkan silaturahim bisa menjadi memanjangkan ‘umur’.

Haedar mewanti-wanti dalam menghadapi era informasi terlebih media sosial, dimana manusia, termasuk juga kader Muhammadiyah yang memiliki kedekatan intensif dengan media sosial untuk lebih berhati-hati. Terlebih dalam membesarkan dan membangun Muhammadiyah, menurutnya Muhammadiyah hidup dari perbuatan atau amalan nyata, bukan dari perdebatan melalui media masa.

"Anggota, kader, lebih-lebih pimpinan di lingkungan Persyarikatan jangan merasa sudah berbuat hanya dengan sibuk ber-Whatsapp tanpa terlibat langsung dalam menggerakkan memajukan Muhammadiyah," pesan Haedar.


Apalagi manakala di media sosial lebih banyak memproduksi hal-hal yang kontraproduktif dan membuat hati, pikiran, dan sikap kita menjadi kehilangan optimisme serta semangat berikhtiar untuk memajukan dakwah Muhammadiyah.

"Pimpinan dan juga kader Muhammadiyah jangan hanya sibuk berdebat di media sosial, tanpa melakukan aksi konkrit berupa kebermanfaatan yang bisa dirasakan oleh masyarakat atau umat," harap Haedar.

Maka, selain mendapatkan ujrah. Karyawan Muhammadiyah dalam bekerja juga harus berharap kepada ajrun, yaitu lapisan kedua dari ikhtiar yang tidak terlihat di dunia namun menjadi tabungan di Yaumul Akhir nanti.

Haedar juga berpesan kepada karyawan Muhammadiyah untuk juga menghidupkan jiwa kewirausahaan, karena wirausaha juga merupakan etos orang Muhammadiyah. Sehingga karyawan ataupun kader Muhammadiyah mampu berdaya di atas kakinya sendiri, tidak perlu menggantungkan diri kepada orang lain.

“Sehingga semangat memberi dan melakukan kebaikan seperti yang biasa dilakukan oleh para pendahulu Muhammadiyah turut bisa dilakukan oleh warga persyarikatan sekarang ini,” pungkas Haedar.




http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-17260-detail-muhammadiyah-hidup-dari-perbuatan-amalan-nyata-bukan-dari-perdebatan-di-medsos.html?fbclid=IwAR3HNfKCwYZ6kIPrCN644ufToeA_CNwA3C3GqxNGAZubowZiOzgGAWs087o


Selasa, 06 Agustus 2019

20 Mutiara Hikmah / Nashoih Alm. Mbah Maimoen Zubair


 -1. Wong Yahudi iku biyen gelem mulang angger dibayar , tapi akehe kiyai saiki ngalor ngidul karo rokoan ora gelem mulang nak ora dibayar, gelem mulang angger dibayar. (Orang Yahudi dulu mau mengajar kalau dikasih uang, tetapi kebanyakan kyai sekarang mondar-mandir sambil rokoan tidak mau mengajar kalau tidak dikasih uang).


2. Wong neng dunyo iku ono bungahe lan ono susahe, kabeh iku supoyo biso dadek’ake parek marang Allah, Tapi nak neng akhirat nak susah susah tok rupane nang neroko, tapi nak seneng yo seneng tok rupane neng suargo (Orang di dunia itu ada yang senang dan ada yang susah. Semua itu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah, tetapi kalau di akhirat susah terus yaitu ketika di Neraka, dan senang terus ketika di Surga).


3. Kanggone wong islam nak susah yo disabari nak bungah disyukuri. (Untuk orang Islam ketika susah disabari dan ketika senang disyukuri).


4. Apik-apik’e dunyo iku nalikone pisah antarane apik lan olo. Sakwali’e, elek-elek’e dunyo iku nalikone campur antarane apik lan olo. Mulane apik iku kanggone wong islam, lan elek iku kanggone wong kafir. (Bagusnya dunia itu ketika pisah antara bagus dan jelek, sebaliknya jeleknya dunia itu ketika campur antara bagus dan jelek).


5. Apik-apik’e wong iku taqwo marang Allah yoiku ora ngelakoni doso mboh iku doso cilik utowo doso gede kabeh iku di tinggal. (Bagus-bagusnya orang itu ialah orang yang bertaqwa, yaitu tidak mau melakukan dosa, baik dosa kecil maupun besar semuanya ditinggal).


6. Zaman akhir iku senengane podo ngatur pangeran. yaiku podo akeh-akehan istighozahan koyo-koyo demo marang pangeran. (Zaman akhir itu banyak orang yang mendemo tuhan yaitu dengan cara Istighozah, seolah-olah seperti mengatur tuhan).


7.Ngandikone bapakku :حََِفَط َشُيئا وغا بت عنه ا شياءakehe wong iku ngertine pekoro siji liyane ora ngerti koyo dene wong haji ngertine mong bab kaji, pembangunan masjid yo iku tok, ora ngerti bahwa sodakoh iku yo ono wong miskin mbarang. (Ayah saya pernah mengatakan bahwa banyak orang yang tahu perkara satu tetapi yang lain tidak diketahui, seperti halnya orang tahunya hanya bab haji saja, atau shodaqoh pembangunan masjid saja, tetapi tidak tau bahwa sodaqoh itu juga ada yang buat fakir miskin).


8.Nak wong ahli toriqoh utowo ahli tasawuf iku ora ono bedone doso iku gege utowo cilik podo bae kabeh didohi.(Kalau orang Ahli Toriqoh atau Tsawuf tidak ada bedanya dosa itu baik besar atau kecil semuanya ditinggalkan).


9.Wong iku seng apik ora kena nyepeleake doso senajan cilik, lan ora keno anggak karo amal senajan akeh amale.(Orang itu yang bagus ialah tidak menyepelekan dosa meskipun kecil dan tidak sombong ketika punya amal meskipun banyak).


10. Dunyo iku dadi tepo tulodone neng akhiratمرءاةفي الاخرة الدنيا (Dunia itu menjadi contoh atau cermin diakhirat).


11. Ngalamate Qiamat iku angger wong tani iku wes aras-arasen tani, mergo untunge iku sitik. (Termasuk tanda Qiyamat itu orang sudah malas untuk bertani, karena untungnya sedikit).


12. Gusti Allah iku gawe opo bae mergo sebab awae dewe 'kembang seberat mekar dewe'. (Allah itu membuat apa saja sebab diri sendiri 'Bunga berat berkembang sendiri').


13. Nabi bersabda : انكم ستمصرون امصا را seng artine kuwe kabeh ko bakal gawe kota dewe-dewe. (Wong sugih iku ko bakal gawe kota dewe-dewe, wong mlarat iku podo gawe deso dewe-dewe artinya “Bahwasannya nabi telah bersabda yang artinya :Orang kaya itu akan membuat kota sendiri-sendiri, sedangkan orang Miskin nanti akan membuat desa sendiri-sendiri).


14. Endi-endi barang iku bakale ilang. Wong mangan daging eyo bakale ilang, tapi ono seng ora ilang, iyoiku barang seng ora ketok koyo dene ruh, kang ora sebab opo-opo, langsung pepareng soko Allah ora melalui proses.(Semua barang itu akan hilang, orang makan daging juga akan hilang dagingnya, tetapi ada yang tidak hilang yaitu Ruh, ini pemberian lansung dari Allah tanpa proses).


15. Wali iku nak katok iku wes ora disiplin wali, masalahe wali Iku ora keno kanggo conto, asale tingkahe iku selalu nulayani adat. (Yang namanya Wali kalau kelihatan itu sudah tidak disiplin Wali, karena Wali itu tidak boleh dicontah, karena tingkahnya selalu berselisih dengan kebiasaan).


16. Alamate wali iku wes ora biso guneman karo menungso, masalahe wong nak guneman karo menungso iku yo ora biso dzikir karo Allah artinya “Tanda wali itu sudah tidak bisa berkomunikasi dengan manusia karena kalau berdiskusi dengan manusia biasanya tidak bisa dzikir dengan Allah”.


17. Barang yen positif iku ora katon , bisone katon iku angger ono negatif, koyo kuwe biso reti padang yen wes weruh peteng, wong biso ngerti Allah angger wes ngerti liyane Allah. (Sesuatu yang bagus itu tidak kelihatan, dan akan kelihatan ketika ada yang tidak bagus, contoh kamu tau terang kalau sudah gelap, dan kamu tau Allah ketika kamu tau selain Allah).


18. Wong iku yen solat bengi kok ajak-ajak iku berati ora pati ikhlas, masalahe mbengi iku wayah turu, lah wong solat iku kudune soko karepe dewe. (Orang ketika salat malam mengajak-ajak berati itu menandakan tidak begitu ikhlas, karena waktu malam itu waktu istirahat, kalau mau salat memang dari keinginan diri sendiri).


19. Sepiro senenge tangi soko kubur, iku sepiro enakke neng alam akhirat. (Seberapa senangnya orang bangun dari kubur, seberapa senangnya diakhirat).


20. Wong naliko metu soko wetenge simbok iku kudu susah, tapi yen wong metu soko dunyo alias mati iku kudu roso seneng , iki alamate wong seng bakal urip seneng.(Orang ketika keluar dari kandungan sang Ibu harus susah, sedangkan keluar dari dunia yaitu meninggal harus senang ini alamatnya orarang akan senang).

Sumber: ppalanwar.com

CDCC Programe Today


Residu Politik Umat



Oleh Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Seluruh rangkaian Pemilu 2019 sudah selesai. Presiden dan wakil presiden sudah ditetapkan dan tinggal menunggu pelantikan. Masih ada sengketa pemilihan anggota legislatif yang harus diselesaikan di Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua masalah terkait kursi legislatif di semua tingkatan sudah tinggal ketuk palu.

Sekarang ini para elite politik mulai sibuk berbagi “fai” dan “ganimah” serta asabah hasil pemilu. Banyak yang kasak-kusuk untuk duduk di kursi menteri, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Ada yang terbuka meminta jatah menteri, ada pula yang basa-basi. Sayup-sayup terdengar ada deal jabatan ketua DPR, DPD, dan MPR.

Residu politik

Di level elite, pemilu sudah benar-benar selesai. Semuanya sepertinya sudah clear and clean. Namun, di akar rumput, kalangan alit, sisa-sisa pemilu masih belum sepenuhnya sirna. Sebagian masyarakat masih ada yang belum atau tidak mau move on. Mereka menolak hasil pemilu, khususnya pemilihan presiden.

Meskipun keputusan MK sudah final, kelompok ini menilai sidang MK hanya sandiwara. MK sebagaimana KPU dan Bawaslu dianggap sebagai bagian dari pilpres yang dilaksanakan dengan penuh kecurangan masif, terstruktur, dan sistematis.

Secara de jure, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sudah resmi menjadi presiden. Namun, secara de facto, sebagian die hardpasangan Prabowo-Sandi masih belum bisa mengakui. Sebagian sudah tegas memilih menjadi oposisi. Sebagian lainnya masih bermimpi ada keajaiban, pemilu dibatalkan dan dilakukan pemilihan ulang.

Kelompok kedua mengalami kekecewaan ganda. Pertama, kecewa dengan kekalahan Prabowo-Sandi. Selain itu, mereka juga kecewa dengan Prabowo yang dianggap mengambil langkah sendiri bertemu Jokowi dan Megawati. Sebagian mereka bahkan berpendapat Prabowo telah berkhianat. Jumlah mereka tidak seberapa.

Namun, perilaku yang outspoken banyak menarik dan mendapat peliputan media. Di media sosial masih beredar disinformasi dan ujaran kebencian kepada Jokowi. Beredar khurafat yang mengaitkan bencana alam--khususnya gempa bumi--dengan kecurangan pilpres.

Dalam politik, menolak hasil pemilu merupakan hal yang biasa. Oposisi konstruktif terhadap pemerintah bukanlah hal yang tabu. Namun, penolakan itu menjadi tidak lazim dan bermasalah karena mengatasnamakan ulama dan umat. Dalam hubungannya dengan gerakan Islam dan relasi antara Islam dan negara, sikap dan perilaku kelompok ini kontraproduktif dan memiliki akibat negatif dalam kehidupan umat.

Pertama, potensi memecah belah umat Islam. Mereka sengaja menciptakan firkah-firkah dalam tubuh umat dengan memelihara dan memperluas polarisasi politik Pemilu 2019. Psikologi pemenang dan pecundang berkembang. Euforia mereka yang menang membuat pecundang meradang. Beberapa masalah yang selama ini idle dibuka kembali. Realitas ini seakan menjadi babak baru, perpanjangan waktu, persaingan politik pascapemilu.

Kedua, perlawanan yang keras terhadap pemerintah menimbulkan persepsi umat Islam sebagai kelompok anti-NKRI dan Pancasila. Bagi sebagian kalangan, pernyataan NKRI bersyariah yang disuarakan FPI merupakan bukti nyata ancaman terhadap kedaulatan negara. Penilaian semakin kuat ketika secara politik, kelompok-kelompok yang dinilai radikal berada di barisan Prabowo-Sandi. Umat masih terbelah dan seakan tidak peduli dengan imbauan Presiden Jokowi bahwa sudah tidak ada lagi 01 dan 02 tetapi 03, yaitu Persatuan Indonesia.

Ketiga, residu politik juga bisa menyeret umat dalam konfrontasi politik-kekuasaan. Energi umat terkuras dalam berbagai aktivisme politik jalanan. Kehirauan umat terdapat politik begitu tinggi. Instrumentalisasi agama sebagai identitas dan gerakan politik tampaknya akan terus terjadi. Jika pemerintah tidak tepat melangkah dan kinerja pemerintahan tidak lebih baik dari sebelumnya, lima tahun mendatang akan menjadi episode yang penuh ketegangan yang melelahkan.

Walaupun kecil, eksistensi dan aksi kelompok ini bisa menjadi batu kerikil yang menghambat perjalanan, bahkan bisa menjadi batu ginjal yang merusak kesehatan. Residu politik masih belum sepenuhnya sirna dan berpotensi menjadi faktor liabilitas umat. Ulama seakan terbelah dalam dua institusi; Ijtima Ulama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Perlahan namun pasti, beberapa aksi ad hocyang semula bersifat sporadis mulai menjadi lembaga tersendiri.

Salah satunya adalah kelompok 212. Aksi demonstrasi Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) MUI pada 4 November (411) dan 2 Desember (212) berkembang menjadi organisasi. Selain Persatuan Alumni (PA) di beberapa daerah juga berdiri waralaba 212. Bersama-sama dengan beberapa gerakan lainnya, PA 212 dan Ijtima Ulama yang lahir dari rahim Pilkada Jakarta dan Pilpres 2019 bertumbuh menjadi kelompok emergingIslam yang menjadi “penyeimbang” established Islam.

Agenda bersama

Pluralitas politik dan gerakan adalah hal yang tidak terhindarkan. Namun, pluralitas yang terpolarisasi dalam kutub-kutub politik aliran dan libido kekuasaan tidak boleh diabaikan. Tidak hanya umat yang terbelah, tetapi bangsa juga bisa pecah.

Sampai saat ini Indonesia mampu mengatasi berbagai ketegangan dan gelombang politik dengan baik. Selalu ada solusi kultural sehingga gelombang pasang demokrasi tidak menjelma badai. Indonesia bukanlah Mesir yang pecah setelah pesta demokrasi. Indonesia--terbukti--selamat dari masalah “balkanisasi”. Namun, jika umat Islam tidak solid, ancaman disintegrasi bukanlah ilusi.

Umat Islam perlu mulai berbicara dari hati ke hati membahas agenda bersama. Pertama, para pemimpin umat sudah harus memulai konsolidasi dan akselerasi gerakan ekonomi. Bidang ini sangat mendesak untuk diselesaikan.

Kemiskinan yang disebabkan oleh proses pemiskinan konstitusional, intelektual, dan mental menuntut penyelesaian bersama dengan sepenuh jiwa. Alih-alih diselesaikan, masalah kemiskinan sering kali justru dieksploitasi untuk komoditas politik dan instrumen kekuasaan. Ruang publik penuh retorika dan wacana tetapi sepi aksi nyata.

Kedua, masalah sumber daya manusia. Daya saing dan daya sanding umat begitu lemah. Ada masalah serius dalam tubuh umat, yaitu bidang pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola umat Islam sangat melimpah, tetapi kualitasnya seperti limbah. Perlu revolusi manajerial dan kerja sama lintas ormas. Sekarang waktunya membangun korporasi dan kolaborasi.

Ketiga, memperkuat gerakan masyarakat madani. Demokrasi liberal telah mengisap energi umat ke ranah politik praktis. Sumber dana dan sumber daya terkuras ke dalam pusaran politik partisan, mulai dari pemilihan bupati/wali kota, gubernur, presiden, dan legislatif. Perlu ada pembagian peran dan posisi agar tidak terjadi kerancuan fungsi.

Politisasi agama sudah sangat jauh sehingga umat seakan tidak lagi memiliki “ayah”, orang tua yang menjadi tempat bertanya. Umat tidak memiliki “rumah” karena masjid sudah tidak bisa lagi menjadi rumah bersama akibat kooptasi dai yang ekslusif dan merasa benar sendiri.

Keempat, perlu gerakan politik kebangsaan untuk memperbaiki sistem politik, terutama sistem pemilu. Sistem proporsional terbuka yang berlaku dalam dua kali pemilu (2014 dan 2019) lebih banyak mendatangkan mudarat dibandingkan manfaat bagi umat dan bangsa. Sistem proporsional terbuka tidak hanya merusak moral, tetapi juga mematikan sistem meritokrasi dan bertentangan dengan spirit dan nilai demokrasi.

Selain itu, umat juga perlu bersungguh-sungguh menyiapkan kader politik yang tangguh. Para pemimpin umat perlu lebih intensif melakukan komunikasi politik dengan para pemimpin partai politik sebagai langkah awal delegasi dan distribusi kader dalam berbagai partai. Strategi konsentrasi politik umat dalam partai politik tertentu perlu dievaluasi.

Umat Islam adalah komunitas terbesar bangsa Indonesia. Perilaku dan mutu umat adalah salah satu penentu utama kemajuan bangsa. Pemilu sudah usai saat semua pertikaian lerai. Residu politik sudah harus dilebur agar umat tidak hancur dan Indonesia berkembang menjadi negeri yang maju, adil, dan makmur.

https://m-republika-co-id.cdn.ampproject.org/v/s/m.republika.co.id/amp/pvqhnb440?amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usqp=mq331AQA#referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Frepublika.co.id%2Fberita%2Fpvqhnb440%2Fresidu-politik-umat

Senin, 29 Juli 2019

Ibu Kota Pindah





Kalimantan Tengah

Kalimantan Selatan

Kalimantan dan Kalimantan.....

sudah berapa kali kita pindahken?

apakah itu bagian dari agenda mendesak bangsa ini?

atau politiskah?

atau hanya pengalihan isu belaka

apa yang kau fikirkan?

wahai puan dan tuan?

isu pemerataankah?

isu kesenjangan yang begitu ketarakah?

adakah agenda bangsa ini selain

infrastruktur yang didominasi

dan Investasi?

kami anak muda bertanya padamu wahai Presiden RI ?


Pendidikan apa kabar?

Budaya apa kabar?

Demokrasi apa kabar?

Agama apa kabar?

Kemiskinan apa kabar?

Lautan apa kabar?

Olahraga apa kabar?

Hukum apa kabar?

Ekonomi dan Politik dua mata perpecahan

berujung bersoalan naluri



Merdekalah!






Kamis, 25 Juli 2019

MOERDEKA SEJAK DOLOE


kau semua pasti merasakan getaran kemerdekaan

kau semua pasti menyaksikan di pinggir- pinggir jalan ada banyak bendera berkibar

kau semua pasti merasakan kebersamaan dalam menyambut hari jadi bangsa "indonesia"


islamkah?

katolikkah?

tionghoakah?

budhakah?

petanikah?

pegawaikah?

akademisikah?

pengusahakah?

pegiat sosialkah?

santrikah?

kyaikah?


lintas profesi kembali kedesa dan rumahnya masing-masing


ikut andil merayakannya!

ikut gembira ria atas penindasan yang telah dihapuskan?


tapi betulkah kita telah merdeka secara defacto dan dejure?

apakah hanya pengakuan semu belaka?


benarkah kita sebagai bangsa sudah MERDEKA!

kalau iya betul



Sudahkah semua anak negeri ini mendapatkan HAKNYA!



sudahkah masyarakat indonesia tersejahterkan!!


sudahkah keadilan terdistribusikan!!


sudahkah


sudahkah



dan sudahkah yang lainnya!!






berfikirlah dan merenunglah wahai anak bangsa!!


jangan kau hanya makan! pulang ! berkumpul dengan keluarga !


seolah tugasmu sebagai manusia sudah selesai!


itukah manusia Merdeka!



gelandangan dimana-mana

tuna wisma meraja lela


inikah sesungguhnya rumah besar indonesia yang merdeka itu!!



sungguh naif atas keprihatinan ini


merenunglah dan berfikirlah wahai anak bangsa!





abdi Revolusi















Rabu, 24 Juli 2019

manusia

semua,


adalah hal yang bergeming dimatamu


aku adalah manusia


manusia tanpa cita


manusia tanpa hati

manusia bedebah


manusia jelmaan fana

jadilah dirimu sendiri

penuh keariefan dan ketegasan

didiklah dengan kesungguhan

dan keikhlasan


" Aku dan KekuranganKu"

aku punya jutaan kelemahan

aku salah

aku egois

aku tidak bisa berpijak dengan apa yang ku utarakan

inilah aku

manusia sejuta kekurangan dan aib

aku akan tetap beribadah sekuat mampuku

dan berbuat, berkarya sebisaku

maafkan aku wahai

umat manusia yang pernah ku sakiti

dan ku sirnai


Kamis, 27 Juni 2019

Putusan Mahkamah dan Masa depan Bangsa



Sejarah akan mencatat dengan huruf dan kapital besar
Semua mata menjadi saksi
semua telinga mendengar
Semua rakyat indonesia diseluruh dunia
ada yang inginkan kemenangan Mutlak,
ada yang pasrah
ada yang mengheningkan cipta
ada yang berdalih perjuangan belom selesai.

entahlah kataku
aku hanya peduli demokrasi padat karya
aku hanya peduli kesejahteraan diatas keadilan
aku hanya peduli kejujuran diatas kemenangan
aku hanya peduli kekuasaan diatas (kemunafikan Keniscayaan dibungkus)
kearifan Gaya Penjajah.
Semua memang Game
tapi bukan berarti semua Game, tanpa pertanggung jawaban.


tetaplah pada pendirian melihat negeri ini
tetaplah pada kesatuan dan persatuan
tetaplah pada stabilitator dan social kontrol.

kekuasaan menjelma menjadi drakula yang menghisap darah rakyat secara perlahan,
"semua seolah-olah"

mari bersatu kembali memikirkan umat #cerahkan, cerdaskan dan memajukan
Ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi, pendidikan, dll,dsb.dst.

#meskipun dengan berat hati, mari ikhlaskanlah

#meskipun dengan berat hati, mari ikhlaskanlah

#semua akan tercatat, mari kita teropong masa depan indonesia dari kaca mata dunia, merenunglah, berfikirlah !

#inilah negeri teather nan jauuuuuh di ujung Dunia.



Sengkaling,  Jumat 28 Juni 2019
Abdi Revolusi.

Sabtu, 25 Mei 2019

kado untukmu yang gugur dalam Demokrasi oleh A Zia Khakim.


#Malamku kini tidak seperti biasanya,
era Informasi kian menenggelamkan siapa saja dan larut didalamnya, sejenak ku berhenti mengaji dimalam i'tikaf ganjil,

#bergugurannya para penyelenggara pemilu peristiwa yang amat melegenda,
#para demonstran di kala perjuangkan transparansi keadilan yang mereka inginkan,

#keadaan memanglah tidak memberinya angin segar untuk mereka yang rindukan kejujuran dan kebenaran.


#mereka hendak meratapi nasib bangsa ini.
#mereka hendak memikirkan nasib anak cucu bangsa ini.
#terlepas praktis, pragmatis sikapi politik, tapi ku pastikan niat mereka adalah "baik"


(hargailah,
hormatilah,
semua dijamin oleh Konstitusi.)


jangan saling cerca,
saling bercerai berai "berlebihan"
kita tetap satu jua.

"Calm Down" KRITISI Kebijakan yang menyengsarakan antipati Kesejahteraan"

#kita tetap dalam bingkai NKRI.


#keutuhan tetaplah keutuhan
#namun bila kedjazliman dipertontonkan harus di LAWAN.!
tidak ada kata lainnya !

#tetaplah jadi insan poejuang dikala riuh Ramadhan membersamai kita!

#Abadi Perjuangan !


Uni Eropa, 21 Ramadhan 1440 H.

Picture bersama sastrawan penulis, kelas dunia
Soesilo Toer adik dari Pramudya Ananta Toer
Lahir dari kota Blora kota yang indah  kota yang melahirkan banyak tokoh

Eko Prasetyo Penulis kritikus, penulis produktif buku2nya sangat digandrungi aktivis kekinian. Pemikirannya yang membongkar.
Beliau  adalah pegiat Sosial Movement institute.

A zia Kh, Presiden 2044 he.he..

Senin, 29 April 2019

Pesanku pada Semesta


jagalah keseimbangan !
Kian detik, kian menit butuh
(Keseimbangan)

jam berganti hari,
pagi berganti siang
siang berganti malam
akan datang Tamu Agung

(Ramadhan Kareem)
sudahkah kita siap?
Lahir- Batin


Sumringah bungah menjumpainyakah?
atau
Aaaaaaah Puasa lagi !? sembari menggerutu

semua tergantung pada dirimu
kesiapan mentalmu
nuranimu
hatimu
hingga akal sehat dan jiwamu


pertanyakanlah, pada
"Ruh didalam ruh"

keseimbangan
pada:
Religius aspek keAgamaan
Intelektualitas aspek Ilmu
Humanism Aspek kemasyarakatan


keseimbangan berpengaruh pada kesuksesan,
berjumpa dengan Ramadhan 1440 H
Bacalah pahamilah
Al Baqoroh 183-187 Bekal untuk Romadhan



Oleh A Zia Khakim
Los Angeles, 30 April 2019

Rabu, 24 April 2019

Buku Hari Dunia Setiap Hari

“Ketika kamu ragu akan sesuatu, carilah di perpustakaan.”  - J. K. Rowling, Penulis novel Harry Potter

Aku adalah bagian dari semua yang telah aku baca.” - Theordore Rosevelt, Presiden Amerika ke 26

“Seorang pembaca hidup ribuan kali sebelum ia mati.” - George R. R. Martin, Penulis buku Game of Thrones

"Jika budaya anda tidak menyukai orang-orang kutu buku, anda berada pada masalah yang serius."  - Bill Gates, Pendiri Microsoft

Aku rela dipenjara bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” - Moh. Hatta, wakil presiden Republik Indonesuia yang pertama

"Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi." - Tan Malaka, Aktivis kemerdekaan Indonesia

“Hidup yang berkaki kuat adalah hidup yang menyejarah. Namun bagaimana kita bisa tahu sejarah, jika kita tidak membaca? Hidup yang berkaki kuat adalah hidup yang tidak sempit dan berani menjelajah. Namun bagaimana kita tahu akan yang luas, dan inspirasi untuk penjelajahan, jika kita tidak membaca?” - Sindhunata, budayawan


"Saya ini enggak punya pacar. Teman main saya cuma buku dan bola" - Gus Dur, Presiden keempat Indonesia.

Membaca Atau Mati kutu " Abdi Revolusi"

Buku-buku adalah temanku, disanalah aku bertemu orang-orang besar, pikiran-pikiran mereka menjadi pemikiranku, pendirian mereka menjadi dasar perjuangan hidupku. "Ir Soekarno" - revisi penulis.

Iqro' And Nun Wal Qolami Wama Yasturun, (Al Quran)

Menulis, Menulis, Menulis, (Kuntowijoyo)
Membaca, Membaca, Membaca (revisi penulis)


Sabtu, 20 April 2019

Rohana kudus vs RA Kartini

kian hari saya makin gelisah karena banyaknya millenials kekinian tak paham sejarah kebangsaan: utamanya soal peran perempuan muslim, penulis islam : maka prespektif kebangsaanku islam.
mari kita telusuri jejak pahlawan perempuan dari sumatera Roehana Koeddoes


 (lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 – meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun) adalah wartawan Indonesia. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Roehana Koeddoes adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Dia juga sepupu H. Agus Salim. Roehana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Ia adalah perdiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Roehana adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya Roehana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Roehana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Walaupun Roehana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Roehana bahan bacaan dari kantor. Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Roehana cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya. Dalam Umur yang masih sangat muda Roehana sudah bisa menulis dan membaca, dan berbahasa Belanda. Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin, dan Arab-Melayu. Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Roehana bertetangga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu Roehana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Disini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemari Roehana.

Berbekal semangat dan pengetahuan yang dimilikinya setelah kembali ke kampung dan menikah pada usia 24 tahun dengan Abdul Kudus yang berprofesi sebagai notaris. Roehana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Banyak sekali rintangan yang dihadapi Roehana dalam mewujudkan cita-citanya. Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan penuh dengan benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang, bahkan fitnahan yang tak kunjung menderanya seiring dengan keinginannnya untuk memajukan kaum perempuan. Namun gejolak sosial yang dihadapinya justru membuatnya tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya.

Selain berkiprah di sekolahnya, Roehana juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya. Disamping itu juga Roehana menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropa yang memang memenuhi syarat ekspor. Ini menjadikan sekolah Roehana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau.

Banyak petinggi Belanda yang kagum atas kemampuan dan kiprah Roehana. Selain menghasilkan berbagai kerajinan, Roehana juga menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda. Tutur katanya setara dengan orang yang berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas. Kiprah Roehana menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatra Barat.

Keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya menulis berujung dengan diterbitkannya surat kabar perempuan yang diberi nama Sunting Melayu pada tanggal 10 Juli 1912. Sunting Melayu merupakan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan.

Kisah sukses Roehana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama pada tanggal 22 Oktober 1916 seorang muridnya yang telah didiknya hingga pintar menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Roehana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi didampingi suaminya, seorang yang mengerti hukum dan dukungan seluruh keluarga. Setelah beberapa kali persidangan tuduhan pada Roehana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, namun dengan halus ditolaknya karena dia berniat pindah ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi Roehana mendirikan sekolah dengan nama “Roehana School”. Roehana mengelola sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun untuk menghindari permasalahan yang tak diinginkan terulang kembali. Roehana School sangat terkenal muridnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi tetapi juga dari daerah lain. Hal ini disebabkan Roehana sudah cukup populer dengan hasil karyanya yang bermutu dan juga jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Sunting Melayu membuat eksistensinya tidak diragukan.

Tak puas dengan ilmunya, di Bukittinggi Roehana memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina dengan menggunakan mesin jahit Singer. Karena jiwa bisnisnya juga kuat, selain belajar membordir Roehana juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri. Roehana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa.

Dengan kepandaian dan kepopulerannya Roehana mendapat tawaran mengajar di sekolah Dharma Putra. Di sekolah ini muridnya tidak hanya perempuan tetapi ada juga laki-laki. Roehana diberi kepercayaan mengisi pelajaran keterampilan menyulam dan merenda. Semua guru di sini adalah lulusan sekolah guru kecuali Roehana yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Namun Roehana tidak hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam melainkan juga mengajar mata pelajaran agama, budi pekerti, Bahasa Belanda, politik, sastra, dan teknik menulis jurnalistik.

Roehana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat Koto Gadang terhadap pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah segala. Namun dengan bijak Roehana menjelaskan “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”. Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Roehana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Roehana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Roehana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatra. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.

Demikianlah Roehana Koeddoes menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Kalau dicermati begitu banyak kiprah yang telah diusung Roehana. Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Dan pada tanggal 6 November 2007 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.




bagiku (penulis : zia) Rohana kuduslah yang lebih layak di peringati dan dipelajari jejaknya pada 21 April, bukan RA Kartini. selamat mendalami Syakhsyiyah "Rohana Kudus" Baca : Kontribusi

Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Kartini, dia menggambarkan seolah-olah seluruh perempuan Indonesia tertindas. Faktanya, ada sosok Rohana Kudus yang hidup sezaman dengannya dan berhasil keluar dari belenggu patriarki. Rohana Kudus memperjuangkan hak-hak perempuan melalui media massa, pendidikan, hingga bidang ekonomi.



"Menurut Penulis, menjadi pimred lebih bagus dari pada menulis surat ke Belanda. Memang ada rasa sedikit menyesal, kenapa Rohana Kudus tidak dijadikan pahlawan, padahal hidup sezaman dengan Kartini?" 
namanya kian memudar karena tidak sekeras suara RA Kartini, di ruang-ruang sekolah : pelajaran Sejarah, miris!




sumber:
Wikipedia
https://www.idntimes.com/news/indonesia/indianamalia/melacak-jejak-rohana-kudus-pionir-jurnalis-perempuan-dari-koto-gadang-2/full
Tamar Djaja, Rohana Kudus: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, Jakarta: Mutiara, 1980
Rudolf Mrazek. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1996.
Fitriyanti, Roehana Koeddoes Perempuan Sumatra Barat, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2001
Fitriyanti, Rohana Kudus Wartawan Perempuan Pertama indonesia, Yayasan d' Nanti, Jakarta, 2005

Sengketa Pilpres 2024 di Ajukan di Mahkamah Konstitusi

  Foto Hanya Pemanis 😁 With Prof. Dr. Arief Hidayat , SH, M.S. salah satu Hakim Mahkamah Konstitusi RI Dalil permohonan kecurangan pilpres ...